English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Apakah Rakyat Boleh Demo pada Pemimpinnya?

Rabu, 21 Oktober 2015

Jika kamu bilang demonstrasi (demo) bisa merubah keadaan dan kebijakan pemimpinmu, coba bayangkan kalau kalian yang jadi pemimpin. Apa kalian suka dipaksa merubah kebijakan atau melakukan sesuatu atas pertimbangan rakyat yang lebih sering awamnya daripada fahamnya?

Jika kau anggap demo bisa merubah kesejahteraan rakyat, lalu kenapa kalian pilih pemimpin yang tak bisa memenuhi kapasitasnya sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas kesejahteraan seperti yang kalian inginkan?

Jika kalian anggap demo bisa merubah keadaan, maka apakah demo bisa menghilangkan bencana alam, seperti kabut asap, gempa bumi dan banjir besar?
Memperumit bisa!

Kenapa gak rubah cara pandang kalian? Misalnya; musim kemarau ini lihat sisi baiknya, kita bisa jemur pakaian, kerupuk kulit & ikan asin bukan?

Mending kalian berbuat lebih kreatif daripada demo untuk bisa menemui pemimpin kalian dan jangan sampai media tahu apa isi pembicaraan kalian, apalagi di-youtube-in.

Jauh lebih baik kalian bertemu pemimpin kalian dan bicara dari hati ke hati. Katakan keresahan kalian. Betul sekali, boleh stand up comedy tentunya.

Dengan penampilan ini saja, dulu kami pernah dianggap teroris. Apa kalian mau, dengan sandangan mahasiswa, kalian dianggap pendemo anarkis?

BEM itu gak cuma berfungsi sebagai KORLAP. Tapi juga sebagai penampung aspirasi rakyat kelas tertentu, yakni kaum terdidik. Bertingkahlah sepertt kaum pintar yang terdidik.

Karena kelak generasi seperti kalianlah (BEM) yang akan jadi PEMIMPIN NEGERI INI. Kalian mau didemontrasi dengan cara yang TIDAK SANTUN atau dengan cara BERPANTUN?

Kalian pasti akan memilih cara yang tidak membuat kita sakit hati bukan?

Gaya protes dengan berpantun kan lebih indah dan enak diperhatikan. Jika kurang santun, maka perbanyaklah berpantun. Semoga lebih santun.

Atau kalian belum tahu artinya SANTUN? | Apaan? Ekstrak kelapa parut?

SANTUN adalah sifat dasar manusia untuk menunda hukuman dan lebih mendahulukan tindakan memberi kesempatan pada orang lain untuk memperbaiki diri daripada memberi hukuman.

Padanan kata SOPAN, SANTUN dan PEMAAF adalah hal yang paling sering kita dengar, tapi jarang kita terapkan pada diri kita secara bersamaan bukan?

Sifat SANTUN biasanya berbarengan dengan sifat PEMAAF. Kita mungkin bisa sopan, tapi kita tak bisa santun, apalagi pemaaf. Misalnya; bla... bla... bla...

Bayangkan kau pemimpin negeri ini & para mahasiswa itu sebagai anak bayimu. Pasti kenakalan mereka tak kan membuatmu membencinya bukan?

Anggaplah pemimpinmu sekarang, yg gak ganteng-ganteng serigala itu, sbg ayahmu. Seburuk-buruknya dia pasti masih lebih buruk beruk, bukan?

Misalnya: @jokowi kinerjanya selama 1 tahun terakhir kurang memuaskan. Anggap saja bapakmu juga tak pernah bisa memuaskan seluruh anggota keluarga bukan? Tanya ibumu, gimana masalah ranjang tidurnya. Gak mungkin kalian tanya ibumu tentang masalah ranjang tidur ayahmu di depan orang banyak bukan? Bahkan bertanya saja kalian tak berani bukan? Kecuali dengan sindiran. Itupun bukan hak dan kapasitasmu, dan bukan hal yang sepantasnya.

Jadi kalian anggota BEM, bijaklah dalam berdemonstrasi. Hilangkan spanduk kritik tajam yang tak santun dengan sesuatu yang mengajak pada ketenangan.

Seburuk-buruknya pemerintahan @jokowi kan masih ada pemimpin yang lebih buruk di luar negeri sana bukan? Salah siapa pilih JKW-JK? Salah rakyat Zimbabwe lah. Kenapa mereka gak pilih lawannya Jokowi.

Apa dengan tulisan opini saya ini lalu saya dicap berpihak pada @jokowi? Lah saya mah gak milih dia. Kalian yang milih dia, kalian yang demo.

Jadi kritiklah JKW-JK dgn cara elegan. Bukan mengkritik dengan cara elek, Gan!

Siapa yang melarang kalian berdemo? Tapi berdemolah dengan santun, hilangkan pemicu potensi anarkis seperti membakar ban. Jauh lebih menyenangkan jika membakar ayam bukan? Ini demo memasak, Bro.

Setelah kalian diberi kesempatan untuk berdialog dengan pemimpin kalian, maka sampaikanlah secara santun apa yg perlu diketahui publik.

Dan jangan publikasikan kepada media, apa yang tak pantas untuk didengar seluruh rakyat. Itu jauh lebih bijak bukan? Jika kalian tidak bijak, pasti kalian cuma pembajak.

Setelah kalian diberi kesempatan untuk berdialog dengan pemimpin kalian, maka sampaikanlah secara santun apa yg perlu diketahui publik.

Sedangkan kritik pedas serta koreksi tajam atas kinerja pemimpin kalian, sebaiknya sampaikan secara tertulis dan tak perlu menghinakannya. Kenapa kita menghina orang yang sudah hina, coba? Kan sama seperti kita menangkap maling, lalu digebuki massa, lalu kita teriaki "Maling lo ya!" Kenapa gak kita teriaki yang levelnya lebih tinggi dikit, misalnya; "Koruptor lo ya! Atau presiden lo ya!"

Tulisan ini berlanjut. Tergantung nanti, apakah ada show tunggal DikRizal Show?

Istri/Suami adalah Pakaian Penjaga Aurat Kita

Kamis, 07 Mei 2015

televisi SANYO milik dikrizal dijual murah cuma Rp10juta tanpa perantara kondisi mati total
Televisi SANYO mati total milik dikrizal ini dijual 
Gak tahu kenapa dulu waktu masih suka nonton televisi, sering heran melihat banyak artis yang demi popularitas rela untuk membuka aib keluarganya. Biar diliput media massa infotainment, seorang artis rela membongkar aib mantan suaminya, atau bahkan membongkar suami yang mau dicerainya.

Demikian pula sebaliknya ada ada suami yang mau membuka aib istrinya, meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit daripada artis wanita yang bermasalah dengan suaminya.

Gejala apa ini? Menjelang kiamat kah? Hanya berdalih karena tuntutan kebahagiaan, tapi melupakan makna keluarga sakinah (damai dan tenang) yang hakiki, mereka dengan berani membuka aib diri dan rumahtangganya kepada media massa. Bahkan tak sedikit yang mau diwawancarai asal pihak media mau membayar harga tertentu. Sakit... Artis yang sakit jiwa, media yang sakit jiwa, yang menontonnya juga sakit jiwa. Ghibah kok dijadikan komoditas industri media?

Saya, sebagai penulis pun punya keluarga yang damai tapi juga mempunyai banyak kelemahan di sana-sini alias aib yang lumrah dimiliki setiap rumah tangga, bukan? Tapi apa penulis rela membuka aib itu sebagai komoditas sumberdaya nafkah? Yang pada akhirnya hasilnya akan saya berikan untuk anak istri saya dan jadi darah daging mereka? Naudzubillahi min dzalik.

Sebagai penulis dan juga komik, komedian stand up, mau sekali saya menjadikan masalah keluarga saya sebagai sumber inspirasi dari materi komedi saya di atas panggung. Tapi berkaitan dengan perintah syariat agama yang kita dilarang membuka aib saudara kita kepada khalayak. Diperkuat lagi barangsiapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah Yang Maha Suci akan menutup aibnya kelak di akhirat. Apalagi yang lebih kuat dasarnya selain hal tersebut?

Sebaliknya terlalu membanggakan dan memuji pasangan hidup kita dan keluarga pun kita dilarang, karena hal itu akan menyebabkan timbulnya fitnah dan penyakit riya', sombong dan takabur. Membanggakan apa yang menjadi kelebihan keluarga kita itu tak ada gunanya, toh teman-teman atau lingkungan kita tak membutuhkan itu bukan? Sedangkan orang-orang di sekitar yang membenci kita tak akan percaya dengan segala pujian dan kebanggaan yang kemungkinan besar dianggap semu atau dusta.

Sebagai orang yang mempercayai bahwa segala sesuatunya sudah diatur rapi dan kita hanya menjalankan dan mengusahakan apa yang perlu dan pantas untuk dilakukan sesuai dengan tuntunan, termasuk apa yang menjadi tontonan kita sehari-hari. Wajarsaja, kalau saya merasa beruntung, sebab di rumah saya televisi jarang dinyalakan, pertama karena betapa banyak tontonan yang tak bermanfaat dan bisa merusak moral keluarga saya. Yang kedua karena televisi merk Sanyo saya sudah rusak, tidak menyala sama sekali, alias mati total, semenjak beberapa tahun lalu, dan saya malas membawanya ke tukang servis.

Apalagi kalo televisi Sanyo itu saya bawa ke tukang servis pompa Sanyo. Gak akan bisa, karena saya gak bawa uang. Ini masalahnya apa sih? Orang lagi ngomongin masalah aib keluarga, kenapa larinya ke pompa Sanyo? Gak nyambung pisan! 

Benarkah Satpam Dhuafa Ini Ranta ke Tanah Suci?

Sabtu, 18 Januari 2014

PERJALANAN HIDUP SEORANG SATPAM KOMPLEK PERUMAHAN YANG PENYABAR

ki-ka: Rasmaniawati, ibu kandung Ranta, Agus Winanto (Promotor Umroh), Ranta & istri Ranta
Sesungguhnya manusia itu suka sekali berkeluh kesah, padahal berapa lama sebenarnya dia hidup di dunia jika dibandingkan dengan segala nikmat yang akan dia terima jika bersabar dan beriman dengan ketetapan Allah Subhana wa Ta'ala?


Kehidupan di akhirat jauh lebih lama dan abadi, jika tidak mengetahui makna kesabaran, maka tak akan mengetahui makna tertinggi dari tugas manusia sebagai hamba Allah, yakni ikhlas.


Tahukah Anda ada berapa kata sabar yang tertulis di dalam ayat-ayat Al-Qur'an? Kata shabar di dalam Al-Qur'an itu berjumlah 114 kata. Menurut penelitian Dr. Tariq Al-Swaidan, dalam analisa lebih jauh dari semua ayat-ayat Alqur’an, menemukan bahwa kata shabar itu ada 114 kali berulang, dan bersamaan dengan kata kesusahan (hardship) sebanyak 114 kali di dalam Al-Qur'an.


Dalam Al-Qur’an ALLAH SWT memerintahkan untuk bersabar, seperti dalam ayat berikut ini :
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ

الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا<سورة الكهف :28

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi 18 : 28)

Perintah untuk bersabar pada ayat di atas, adalah untuk menahan diri dari keingingan ‘keluar’ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rabb-nya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat ALLAH SwT.

Dalam al-Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri secara keseluruhan, terdapat 114 kali disebut dalam al-Qur'an. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian ALLAH SwT, yang ALLAH tekankan kepada hamba-hamba-Nya

Banyak orang selalu berkata “kesabaran orang itu ada batasnya” pada saat sudah tidak dapat menahan amarah yang memuncak. Namun kesabaran dalam diri manusia sebenarnya tidak memiliki batas selama kita selalu percaya bahwa ALLAH selalu bersama orang-orang yang sabar, hanya saja kita yang membatasi kesabaran kita sendiri. Memang sabar bukan suatu yang sangat mudah bagi kita, tapi jika kita mau berusaha menjadi pribadi yang lebih sabar maka niscaya ALLAH akan selalu bersama kita.

Sesaat mewawancarai Ranta, seorang calon jama'ah umroh, di kediaman sederhananya di Kampung Pondok Benda RT 05 RW 02 Kelurahan Jatirasa sehari sebelum pelaksanaan syukuran (ratiban) hari Sabtu (18/Jan/2014), penulis merasa banyak hikmah tentang arti kesabaran yang didapat dari lelaki kelahiran tahun 1956 ini.

Lelaki yang pernah 15 tahun bekerja di pedalaman hutan Indramayu ini menceritakan tentang perjalanan hidupnya yang sarat dengan perjuangan keras dan penderitaan tiada henti, siapa sangka di usianya yang tidak muda lagi Ranta mendapatkan nikmat rezeki luar biasa untuk bisa berangkat ke tanah suci beribadah umroh. Satu hal yang tak pernah bisa dia lakukan kecuali hanya bisa bermimpi.

Namun karena kesabarannya yang luar biasa dan tiada pernah berhenti sedikitpun apalagi menyerah pada keadaan, Ranta yang kini telah mempunyai 3 orang cucu dari 3 orang anak ini, mengajarkan kepada kita betapa Allah SwT selalu menolong setiap hambaNya di saat tak terduga dan dan dalam segala kesulitan hidup yang mendera. Subhanallah, penulis merasa malu mendengar ceritanya yang penuh air mata itu.

Ranta dengan mata berlinang, sempat mengalami penyerangan bahkan pemukulan dari sosok yang disebutnya dengan setan dan iblis. Lelaki buta hurup yang tidak pernah sekolah ini, mengakui dia tidak belajar ilmu agama secara khusus, namun karena dia rajin menjalankan ibadah puasa sunnah Senin Kamis, tak jarang mendapatkan banyak ilmu dari  seorang guru ngaji yang memberinya pesan janganlah dia melawan jika dia berhadapan hawa nafsu yang angkara murka. Bersabarlah dan jangan ikuti hawa nafsu itu, lawanlah justru dengan ikhlas dan sabar.

Belum lagi pelajaran lainnya yang didapatnya di lain waktu, dimana dia mendapatkan mimpi dan menceritakan kepada orang yang dianggapnya sebagai gurunya itu. Ranta, yang akan berangkat umroh pada tanggal 30 Januari 2014 atas bantuan seorang tokoh Jatiasih ini, menceritakan mimpinya yang jadi kenyataan ini bermula dari dua tahun terakhir tentang "bakkah" dimana dalam mimpinya itu, lelaki yang bekerja sebagai satpam di komplek perumahan Villa Nusa Indah, Gunung Putri, Bojong Kulur, Kabupaten Bogor ini dia melihat banyak orang sedang melakukan sholat berkeliling pada satu batu (titik) yang dia tak tahu apa itu, baru belakangan hari seorang tua yang dianggapnya sebagai guru mengatakan, bahwa itu adalah Bakkah (Mekkah), pusat qiblat umat Islam seluruh dunia dalam mengarahkan ibadah sholatnya.

Nah dari mimpi inilah, Ranta menganggap apakah ini hanya sekadar mimpi seorang "kecil" (demikian dia sering menyebut dirinya) yang mustahil bisa kesampaian. Hal ini menjadi beban pikirannya, sehingga tak jarang dia terlihat termenung memikirkan mimpinya yang begitu merasuk hati itu. "Apakah mungkin aku bisa pergi ke tanah suci?" bisikan dalam benaknya tak kunjung henti.

Namun Allah rupanya menjawab pertanyaan dan do'anya. Tingkahnya selama beberapa bulan dimana dirinya sering termenung saat bertugas jaga sebagai satpam, ada Agus Winanto, yang memang baru pertama kali melihatnya sedang termenung di pinggiran kali, saat sedang bersepeda dengan celana pendek di kawasan komplek perumahan ujung perbatasan ujung Jatiasih Kota Bekasi dengan Kabupaten Bogor itu.

Agus Winanto, sebagai warga yang pernah tinggal di kawasan komplek perumahan Villa Nusa Indah, hanya sekadar menyapa melihat Ranta termenung di gardu pos jaganya yang berada di pinggir kali kecil komplek perumahan itu.

Dan di situlah Ranta mendapatkan kabar gembira tak terduga, sesaat setelah Agus Winanto menawarkan bantuan untuk pergi umroh ke tanah suci yang telah menjadi impiannya selama setahun terakhir. Agus Winanto yang akrab dipanggil pak Agus ini mengatakan, "Jika nanti saya ada rezeki, maukah Aki (panggilan akrab Ranta di lingkungan warga) pergi berangkat umroh ke Mekkah atas biaya saya sepenuhnya?", tanyanya yang bagai petir memecah ketermenungannya selama ini.

Tak mampu berbicara dan tak percaya dengan tawaran Agus Winanto, Ranta hanya bisa menahan air mata agar tak tumpah keluar karena saking terharunya. Namun saat menceritakannya kepada webrizal.com, Ranta sempat menitikkan airmatanya.

Dia jadi teringat dengan pesan dari gurunya tentang arti dari kesabaran yang tidak ada batasnya. "Guru saya yang pernah bertemu dengan saya dan istri di depan rumah satu ketika pernah berpesan agar selalu bersabar bersama dan tiada batas," ujarnya yang mungkin dia maksud adalah bersabar dalam kebersamaan.


Memperhatikan cerita Ranta, lelaki kelahiran Jatiasih Kota Bekasi ini yang selalu mau bekerja apa saja selama masih halal dalam menghidupi dan menafkahi anak istrinya ini, webrizal mengutip sebuah ayat Al-Qur'an tentang kesabaran, sebagai berikut:



رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
"Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (QS. 2:250)

Jika ada dimana ada penderitaan, maka disitulah kita harus bersabar dan tetap terus berikhtiar, tanpa memikirkan bagaimana nanti Allah akan memberikan pembalasannya atas kebikan dari sifat sabar tersebut.

percayakah Anda, kesabaran Ranta yang tiada pernah habis adalah karena ditempa keras oleh pedihnya kehidupan, dan dia sangat yakin bahwa segala ujian kepahitan hidup ini akan segera berakhir, meski kadang terasa tiada pernah berakhir.

Apakah Anda bisa sesabar Ranta, sang dhuafa yang sudah tak muda usia, namun secara ajaib bisa pergi berangkat umroh ke Tanah Suci Mekkah al Mukaromah ini? Silakan kita bercermin dengan diri kita sendiri.

Sidik Rizal - webrizal.com

Bayangkan Saat Maut Menjemput

Kamis, 21 Februari 2002


Sesosok tubuh berselimut kain putih terbujur kaku. Disekelilingnya terlihat sanak saudara saling berangkulan, dan sesekali terdengar sesegukkan diiringi tetesan air mata kepiluan, keheningan dan kesedihan yang teramat dalam. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al Qur'an dari beberapa orang yang hadir menambah kepiluan mereka yang ditinggalkan. Hari ini, satu lagi saudara kita menghadap Rabb-nya, tidak peduli ia siap atau tidak. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun.

Saudaraku, setiap yang hidup akan merasakan mati. Hal itu termaktub dengan tegas dan lugas dalam kitab-Nya. Maka, bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut maut yang kedatangannya tidak diketahui namun pasti itu. Saat seorang saudara kita mendapatkan gilirannya untuk menghadap Sang Khaliq, saat kita melihat tubuhnya membujur kaku, saat ia terbungkus kain putih bersih, saat tubuh tanpa nyawa itu diusung untuk dibawa ketempat peradilan utama atas setiap amalnya, dan saat kita bersama-sama menanamkan jasadnya ke dalam tanah merah serta menimbunkan tanah dan bebatuan diatas tubuhnya, sadarkah kita bahwa giliran kita akan tiba, bahwa waktu kita semakin dekat.


Saudaraku, pernahkah membayangkan betapa dahsyatnya maut menjemput, kita harus meregang nyawa saat Izrail pesuruh Allah menarik nyawa manusia perlahan-lahan untuk memisahkan dari jasadnya. Ketahuilah, Rasulullah manusia kecintaan Allah dan para malaikat-pun menjerit keras merasakan pedihnya sakaratul maut. Dan saat lepas ruh dari jasad, mata kita yang terbuka lebar dan menatap keatas, mengisyaratkan ketidakrelaan kita meninggalkan keindahan dunia atau mungkin isyarat ketakutan yang teramat sangat akan ganjaran yang akan diterimanya di akhirat.

Saudaraku, bayangkan jika saudara yang baru saja kita saksikan prosesi pemakamannya itu adalah diri kita sendiri, bayangkan juga jika yang terbujur kaku terbungkus kain putih itu adalah diri kita yang saat ini tengah menikmati indahnya dunia, kita begitu rapuh, tidak berdaya dan takkan bisa berbuat apa-apa yang dapat menolong kita dari peradilan Allah, kita hanya diam dan membisu dan membiarkan seluruh tubuh kita bersaksi didepan Allah dan para malaikat-Nya atas waktu dan kesempatan yang diberikan, dan kita hanya bisa menunggu keputusan yang akan diberikan Allah.

Saudaraku, saat itu kita harus rela menerima keputusan dan menjalankan balasan atas segala perbuatan. Tentu tidak ada tawar-menawar, negosiasi, permohonan maaf, belas kasihan, bahkan air mata pun tidak berlaku dan tidak membuat Allah membatalkan keputusan-Nya. Karena kesempatan untuk semua itu sudah diberikan saat kita hidup didunia, hanya saja kita tidak pernah mengambil dan memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk tunduk, takut, menangis berharap akan ampunan-Nya. Tidak saudaraku, semua itu sudah lewat.

Saudaraku, saat tubuh kita terusung diatas kepala para sanak dan kerabat yang menghantarkan kita ke tanah peradilan, tahukah kita bahwa saat itu kita berada dipaling atas dari semua yang hadir dan berjalan, tubuh dan wajah kita menghadap kelangit, itu semata untuk memberitahukan bahwa kita semakin dekat untuk memenui Allah. Tentu kita harus berterima kasih, karena masih ada orang-orang yang mau mengangkat tubuh kita dan mau bersusah-susah menghantarkan, menanam bahkan membiayai prosesi pemakaman kita. Bayangkan jika kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan su'ul khotimah, sehingga semua orang memalingkan mukanya dari muka penuh kotor dan nista ini. Saat itu, tentu tak satupun dari orang-orang yang masih hidup menangisi kepergian kita bahkan mereka bersyukur. Na'udzubillaahi min dzaalik

Saudaraku, kita tentu juga mesti bersyukur saat Allah mengizinkan tanah- tanah merah yang juga makhluk Allah itu menerima jasad kita. Padahal jika tanah-tanah itu berkehendak -atas seizin Allah- ia akan menolak jasad kita karena kesombongan kita berjalan dimuka bumi. Jika ia mau, ia tentu berkata, "Wahai manusia sombong, ketahuilah bahwa tanah ini disediakan hanya untuk orang-orang yang tunduk". Ia juga bisa mengadukan keberatannya kepada Tuhannya untuk tidak mau menerima jasad manusia-manusia yang dengan sewenang-wenang dan serakah menikmati hasil bumi. Tanah-tanah itu juga tentu bisa berteriak, "Enyahlah kau wahai jasad penuh dosa, tanah ini begitu suci dan hanya disediakan untuk orang-orang yang beriman" Tapi, atas kehendak Allah jualah mereka tidak melakukan itu semua. Namun, tentu saat itu sudah terlambat bagi kita untuk menyadari kesalahan, dan kekhilafan.

Oleh karena itu saudaraku, saat sekarang Allah masih memberikan waktu dan kesempatan, saat sekarang kita tengah menunggu giliran untuk menghadap-Nya, ingatlah selalu bahwa setiap yang hidup pasti merasakan mati. Saat kita mengantar setiap saudara yang mati, jangan tergesa-gesa untuk kembali ke rumah, tataplah sejenak sekeliling kita, disana terhampar luas bakal tempat kita kelak, ya, tanah-tanah merah itu sedang menunggu jasad kita. Tapi, sudahkah semua bekal kita kantongi dalam tas bekal kita yang saat ini masih terlihat kosong itu?

Wallahu a'lam bishshowaab (Bayu Gautama).

FORMULIR KEMITRAAN

Klik di sini untuk pengisian formulir kemitraan usaha waralaba
Kotak Makanan Lunch Box dan Kardus Packing

Popular Posts

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2021. RUBY Digital Printing Pesan Jemput Antar 081385386583 - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger