English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Celana Cingkrang Itu Apa Sih?

Rabu, 25 Februari 2015

Bismillah.
Assalamu 'alaikum.
Selamat membaca.
Apa kabar Anda? Baik-baik saja bukan?
Pas banget ya buat jadi target saya saat ini?

Nama saya Sidik Rizal, sayangnya masih ada aja orang panggil saya, Pak Haji.
Mereka gak tahu saya belum pernah naik haji, dan juga belum pernah jadi tukang bubur.
Saya ini hanya tukang madu, yang biasanya suka pake celana cingkrang.

Karena itu, ada aja teman yang suka meledek saya,
karena kemana-mana saya selalu pakai celana cingkrang,
dan mereka selalu bertanya, kenapa pakai celana cingkrang?
Kan ketinggalan zaman, kampungan, norak, katrok, katrok cafe.

Mereka sering meledek saya,
kayak tukang sate Madura,
mirip pesilat gagal olimpiade,
atau seperti teroris gagal modis.

Hadeuh, ngeselin banget. Berikut ini pertanyaan yang sering ditanyakan ke saya;
1.
Kenapa Mas Sidik pake celana cingkrang, di atas matakaki?
Karena kalo saya pake celana di atas matahari, panas terbakar, Begok!

2.
Serius Mas Sidik, kenapa pake celana cingkrang di atas matakaki?
Karena ini musim hujan, rumah sering banjir sampai semata kaki.
Jadi ini adalah celana anti-banjir, banjir semata kaki.

3.
Lah? Kalo banjirnya sedada?
Ya saya pake celana renang. Tapi yang modelnya cingkrang sematakaki.

4.
Kalo pake celana cingkrang apa gak kuatir disangka teroris?
Kenapa kuatir? Kan saya cuma pake celana cingkrang?
Gak pake remote kontrol...!
Gak percaya, periksa aja sendiri... (actout, melihat ke bawah pusar)
Oh itu, yang itu bukan remote kontrol.

5.
Mas Sidik kok pake celana cingkrang, apa gak takut disangka wahabi?
Wah, setiap hari saya dipanggil wahabi, saya malah senang.
Loh kok gitu?
Setiap kali saya pulang ke rumah, sehabis salam, anak dan istri teriak senang,
"Wahabi pulang... Wah Abi pulang... Asyiikkk!"

6.
Ayolah Mas Sidik, saya serius tanya, kenapa pake celana cingkrang?
Karena kalau pake celana pensil, percuma! Saya gak bawa buku buat ditulis?

7.
Oke deh, Mas Sidik suka becanda. Suka pake celana cingkrang, kenapa gak pake celana cutbray?
Karena saya takut latah, salah ngomong kalo dipanggil orang, pas pake celana cutbray.
"Yo, mas Sidik, mau pergi kemana, Bray?"
"Oh, saya mau ke masjid, Cut...!
(actout, kaget, menutup mulut) Eh, kancut...!"
Maaf saya khilaf, astaghfirullah.
Itulah sebabnya saya pake gak mau pake cutbray. Mendingan cingkrang.

8.
Mas Sidik selalu pake celana cingkrang,
biar lebih modis, kenapa gak pake celana jin?
Karena saya manusia, bukan jin.

9.
Mas Sidik selalu pake celana cingkrang,
kenapa gak pake celana tentara, biar lebih pas?
Maksudnya apa, pas? Pas jadi teroris?

10.
Bukan, maksudnya, Mas Sidik itu kelihatan muslim militan,
jadi pantasnya,  kenapa gak pake celana tentara?
Karena disini Indonesia bukan Palestina.

11.
Emang Mas Sidik gak pernah pake celana kasual?
Saya juga pake celana kasual, celana jin atau celana tentara,
Kalau saya lagi ada tugas. Panggilan jihad....!

12.
Memangnya arti celana cingkrang buat Mas Sidik itu apa sih?
Celana cingkrang itu memberi kesan kesederhanaan (humble). Gak sombong.
So, celana kasual dan gak cingkrang itu artinya sombong?
Celana menutupi matakaki, menyentuh tanah itu isbal, yang kadang artinya sombong. 
Sombong karena suka meledek dan menghina orang bercelana cingkrang.
Haha, lucu. Serius. Apa buktinya celana menyentuh tanah atau menutupi matakaki itu sombong?
Mau bukti? Coba kamu bayangin cowo jalan-jalan pake celana panjang,
dia plorotin celananya menyentuh tanah dan menutupi matakaki,
Terus dia jalan melenggang. Sombong kan?
Pamer asset negara kemana-mana?

11.
Celana panjang itu tidak boleh isbal atau menutupi matakaki, itu adalah syariat ajaran Islam.
Bagi saya pribadi, mata itu untuk melihat, sama seperti halnya matakaki.
Matakaki itu mungkin untuk melihat jalan kemana kaki akan melangkah.
Ke tempat maksiyat, dugem atau ke tempat ibadah, masjid.
ciyeeh, ceramah.... padahal ini baru pendapat saya aja...
Jadi kelak dia akan jadi saksi, di akhirat, berbicara menuju kemana kaki berjalan.

12.
Teman saya yang jahiliyah, malah ngeledek;
"Jadi enak dong celana isbal, menutupi matakaki.
Nanti di akhirat gak ada saksi matakaki, kemana kaki kita pergi. iya kan?"
Justru dosanya lebih besar, karena menyembunyikan saksi mata.

Coba aja kamu bayangin...
(di sini "what if" kisah buat mereka yang isbal di akhirat....)

13.
Apa betul celana cingkrang itu bersifat egaliter, merakyat, sama selevel, gak ada bedanya?
Orang yang pake celana cingkrang, susah dibedakan,
Mana yang kaya atau miskin. Sama aja.
Mana yang tua atau muda. Sama aja.
Mana yang ganteng atau yang biasa. Sama aja.
Kalian tahu? Tengku Wisnu, sekarang ini selalu pakai celana cingkrang. So?
Bisa bedain, mana yang Tengku Wisnu atau saya, Sidik Rizal. Sama aja, susah dibedakan.

Rujukan tentang celana cingkrang, muslim itu nggak isbal. Sumber : Buku-Kajian.com

[A]. DEFINISI ISBAL
Isbal secara bahasa adalah masdar dari “asbala”, “yusbilu-isbaalan”, yang bermakna “irkhaa-an”, yang artinya; menurunkan, melabuhkan atau memanjangkan. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul ‘Aroby rahimahullah dan selainnya adalah ; memanjangkan, melabuhkan dan menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak. [Lihat Lisanul ‘Arob, Ibnul Munzhir 11/321, Nihayah Fi Gharibil Hadits, Ibnul Atsir 2/339]

[B]. BATAS PAKAIAN MUSLIM
Salah satu kewajiban seorang muslim adalah meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala perkara, termasuk dalam masalah pakaian. Rasulullah telah memberikan batas-batas syar’i terhadap pakaian seorang muslim, perhatikan hadits-hadits berikut:.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wassalam bersabda :
“Artinya : Keadaan sarung seorang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki. Dan apa yang turun di bawah mata kaki maka bagiannya di neraka. Barangsiapa yang menarik pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya.” [Hadits Riwayat. Abu Dawud 4093, Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah 4331]

Berkata Syaroful Haq Azhim Abadi rahimahullah :
“Hadits ini menunjukkan bahwa yang sunnah hendaklah sarung seorang muslim hingga setengah betis, dan dibolehkan turun dari itu hingga di atas mata kaki. Apa saja yang dibawah mata kaki maka hal itu terlarang dan haram.[ Aunul Ma’bud 11/103]

Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Artinya : Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wassalam memegang otot betisku lalu bersabda, “Ini merupakan batas bawah kain sarung. Jika engkau enggan maka boleh lebih bawah lagi. Jika engkau masih enggan juga, maka tidak ada hak bagi sarung pada mata kaki” [Hadits Riwayat. Tirmidzi 1783, Ibnu Majah 3572, Ahmad 5/382, Ibnu Hibban 1447. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 1765]

Hadits-hadits di atas mengisyaratkan bahwa panjang pakaian seorang muslim tidaklah melebihi kedua mata kaki dan yang paling utama hingga setengah betis, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang banyak.

Dari Abi Juhaifah Radhiyallahu ‘anhu berkata:
Aku melihat Nabi keluar dengan memakai Hullah Hamro’ seakan-akan saya melihat kedua betisnya yang sangat putih” [Tirmidzi dalam Sunannya 197, dalam Syama’il Muhammadiyyah 52, dan Ahmad 4/308]

‘Ubaid bin Khalid Radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Tatkala aku sedang berjalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang di belakangku sambil berkata, “Tinggikan sarungmu! Sesungguhnya hal itu lebih mendekatkan kepada ketakwaan.” Ternyata dia adalah Rasulullah. Aku pun bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, ini Burdah Malhaa (pakaian yang mahal). Rasulullah menjawab, “Tidakkah pada diriku terdapat teladan?” Maka aku melihat sarungnya hingga setengah betis”.[Hadits Riwayat Tirmidzi dalam Syama’il 97, Ahmad 5/364. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah, hal. 69]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memanjangkan celananya hingga melebihi mata kaki. Beliau menjawab:
’Panjangnya qomis, celana dan seluruh pakaian hendaklah tidak melebihi kedua mata kaki, sebagaimana telah tetap dari hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wassalam” [Majmu’ Fatawa 22/14]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
“Walhasil, ada dua keadaan bagi laki-laki; dianjurkan yaitu menurunkan sarung hingga setengah betis, boleh yaitu hingga di atas kedua mata kaki. Demikian pula bagi wanita ada dua keadaan; dianjurkan yaitu menurunkan di bawah mata kaki hingga sejengkal, dan dibolehkan hingga sehasta” [Fathul Bari 10/320]

Maka wajib bagi seorang muslim untuk menyerah dan tunduk dan mendengar dan taat kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah sebelum kematian datang menunjunginya, bila sampai demikian ia akan menemukan ancaman yang dulu telah disampaikan kepadanya. Ketika itu dia menyesal dan tidak ada manfaat penyesalan di waktu itu.

Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari maksiat isbal (memanjangkan celana) dan maksiat lainnya. Hendaklah ia memendekkan pakaiannya di atas kedua mata kaki dan menyesali apa yang telah dia lakukan selama hidupnya.

Dan hendaklah ia bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi maksiat-maksiat di sisa umurnya yang singkat ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat bagi orang yang mau bertaubat. Seorang yang bertaubat dari suatu dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.

Orang yang membolehkan isbal melontarkan syubhat yang cukup banyak, di antara  dibolehkan. Oleh karena itu penulis perlu menjawab dalil-dalil yang biasa mereka gunakan untuk membolehkan isbal jika tidak bermaksud sombong.

Pertama: Hadits Ibnu Umar
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat!” Abu Bakar bertanya, “Ya Rasulullah, sarungku sering melorot kecuali bila aku menjaganya!” Rasulullah menjawab, “Engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong.”[Hadits Riwayat Bukhari 5784]

Mereka berdalil dengan sabda Rasulullah, “Engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong.”, bahwasanya isbal tidak sombong dibolehkan?!

Jawaban.
Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah:
“Dan termasuk perkara yang aneh, ada sebagian orang yang mempunyai pengetahuan tentang Islam, mereka berdalil bolehnya memanjangkan pakaian atas dasar perkatan Abu Bakar ini. Maka aku katakan bahwa hadits di atas sangat gamblang bahwa Abu Bakar sebelumnya tidak memanjangkan pakaiannya, sarungnya selalu melorot tanpa kehendak dirinya dengan tetap berusaha untuk selalu menjaganya. Maka apakah boleh berdalil dengan perkataan ini sementara perbedaannya sangat jelas bagaikan matahari di siang bolong dengan apa yang terjadi pada diri Abu Bakar dan orang yang selalu memanjangkan pakaiannya? Kita memohon kepada Allah keselamatan dari hawa nafsu. (As-Shohihah 6/401).

Kemudian Syaikh berkata di tempat yang lain : “Dalam hadits riwayat Muslim, Ibnu Umar pernah lewat di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan sarungnya melorot, Rasulullah menegur Ibnu Umar dan berkata, “Wahai Abdulloh, naikkan sarungmu!”.

Apabila Ibnu Umar saja yang termasuk sahabat yang mulia dan utama, Nabi tidak tinggal diam terhadap sarungnya yang melorot bahkan memerintahkannya untuk mengangkat sarung tersebut, bukankah ini menunjukkan bahwa isbal itu tidak berkaitan dengan sombong atau tidak sombong?! [Mukhtashar Syama’il Muhammadiyyah hal. 11]

Risalah ini diambil dari ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasulullah serta ucapan para peneliti dari kalangan Ulama. Saya mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia memberi manfaat risalah ini kepada penulisnya, atau pencetaknya, atau pembacanya, atau pendengarnya. Dan saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menjadikan amalan ini ikhlas untuk mengharap wajahNya yang Mulia dan menjadi sebab untuk mencari kebahagian sorga yang nikmat.

Dan saya berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi hidayah kepada Muslim yang masih melakukan Isbal pada pakaian mereka untuk melaksanakan sunnah Nabi mereka, Muhammad Ibn Abdullah, yaitu dengan memendekkannya. Memang ada sebagian orang yang bila ditegur perbuatan Isbal yang dilakukannya, dia berkata: Saya tidak melakukan hal ini karena sombong.

Maka kita katakan kepada orang ini : Isbal ada dua jenis, yaitu jenis hukumnnya; adalah bila seseorang melakukannya karena sombong maka dia tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendapatkan siksa yang sangat pedih. berbeda dengan orang yang melakukan Isbal tidak karena sombong. orang ini akan mendapatkan adzab, tetapi ia masih di ajak bicara, dilihat dan dibersihkan dosanya. Demikian kita katakan kepadanya. (diambil dari As’ilah Muhimmah Syaikh Muhammad Ibn Soleh Utsaimin)

Dan saya berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai orang orang yang membimbing lagi mendapatkan hidayah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat kepadaku dan anda sekalian melalui hidayah kitab-Nya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan yang benar kejadian mengikutinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat keras hukuman-Nya (Al Hasyr : 7)

Semoga salawat dan salam tercurah pada Nabi kita, Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya dan segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb Semesta alam.

Oleh Akhuna : Abu Annisa'

Apakah Pemahaman Demokrasi Itu Sesat?

Selasa, 17 Desember 2013

Perbedaan Mendasar PLURALISME vs PLURALITAS


PEMBUKAAN
1.Saat mengetahui pemahaman orang tentang satu istilah yang tidak pada tempatnya, maka saya tergelitik untuk mengkoreksinya.

2.Keyakinan saya ini berdasarkan apa yang diperintahkan Allah dalam wahyu pertama kali buat Nabi Muhammad s.a.w., yakni ayat perintah "Bacalah!"

3.Banyak sekali manusia di dunia yang tidak mengingat pesan pertama ini sebagai satu hal yang WAJIB untuk diikuti sampai kita mati.

4.Seandainya kita tidak bisa membaca, maka apalah jadinya hidup kita sebagai manusia yang mulia ini kecuali sama saja seperti binatang, bahkan bisa lebih hina dari itu

5.Membaca, adalah satu hal yang jika dikaitkan dalam kehidupan kita sehari-hari menjadikan kita selalu waspada terhadap segala kesalahan yang mungkin bisa kita buat.

6.Tanpa membaca, kita seperti masuk dalam rimba kehidupan yang gelap gulita di tengah malam tanpa cahaya sehingga kita seperti tak bisa bergerak atau tetap maju namun bahaya menghadang di depan mata tanpa kita sadar.

7.Demikian pula saat membaca timeline seorang teman di media sosial seperti twitter maupun facebook ataupun yang lainnya, saya mendapati banyak tokoh yang melakukan kesalahan mendasar karena tidak bisa membaca.

8.Haduh, padahal mereka setiap hari kerjanya adalah menulis dan berkicau, tapi mengapa mereka tidak bisa membaca?

9.Hal ini karena kebodohan yang bercampur dengan kesombongan diri merasa sudah banyak membaca dan tahu segala hal.

10.Seandainya mereka mau sedikit mendengarkan nasihat dari orang lain, maka mereka akan dapat pencerahan sekalipun datang dari musuhnya.

(Penjelasan butir 10.Seperti Soekarno pernah bilang, "Hargailah Musuhmu karena mereka mengetahui kelemahanmu")

11.Justru saat seperti itulah mereka seharusnya selalu dalam posisi membaca.

12.Karena membaca adalah mendengarkan, melihat, mempelajari, merasakan, memikirkan dan menelaah lebih dalam.

13.Tapi mereka tidak mau mendengarkan, tidak mau melihat, apalagi mempelajari, merasakan, memikirkan dan mau menelaah lebih dalam.

14.Bacalah, segala sesuatu dengan menyebut NamaTuhanmu, Bismillaah.

15.Tahukah Anda perbedaan mendasar dari pluralisme dan pluralitas?

16.Apakah Anda tahu ada perbedaan mendasar antara pluralisme sebagai kata benda yang berarti pemahaman dan pluralitas sebagai satu kata benda yang berarti kesatuan?

17.Bandingkanlah dengan kata berikut, komunisme dengan komunitas. Bisakah Anda membedakannya?

18.Bandingkan pula rasa perbedaannya dengan dua kata berikut, individualisme dengan individualitas.

19.Juga bandingkan kata berikut ini, sosialisme dengan sosialitas (sosialita).

20.Apakah Anda bisa merasakan perbedaan yang lebih tinggi lagi levelnya antara mayorisme dengan mayoritas?

Perbedaan Mendasar Antara KOMUNISME dengan KOMUNITAS
21.Baiklah, akan saya mulai dengan kata asing yang telah dibahasaindonesiakan, komunisme dengan komunitas.

22.Komunisme adalah satu PEMAHAMAN yang bersifat komunal dan kepercayaan akan keseragaman (sama rata sama rasa) dalam segala hal sebagai pola hidup bersama.

23.Sedangkan komunitas adalah satu kesatuan kelompok yang bersifat komunal dimana para anggotanya punya keseragaman pada satu hal.

24.Faham Komunisme kini jadi satu faham terlarang di negeri kita yang menganut Pancasila, tapi banyaknya komunitas bukanlah hal yang terlarang di negeri ini.

25.Pernahkan anda mendengar ada komunitas ini dan komunitas itu yang tumbuh subur di Indonesia? Apakah mereka penganut faham komunisme, tentu tidak.

26.Jadi bisakah dibedakan antara komunitas dengan komunisme, sampai di sini?

Perbedaan Mendasar Antara PLURALISME dengan PLURALITAS
27.Sekarang coba Anda bedakan arti dari pluralisme versus pluralitas, seperti halnya individualisme versus individualitas?

28.Pluralisme adalah pemahaman yang menganggap pluralitas itu tidak boleh dibeda-bedakan, harus ada semangat untuk menyamaratakan keberagaman.

29.Jadi intinya semangat pluralisme adalah meniadakan keberagaman dan menyamaratakan perilaku kita dari perbedaan dengan toleransi yg sama.

30.Hal ini bisa berarti efek negatif pada satu sisi. Jadi pemahaman pluralisme adalah kesalahan fatal dalam menyikapi perbedaan. Sama seperti pemahaman komunisme.

31.Bandingkan dengan arti pluralitas, yang maknanya adalah keberagaman dalam satu kelompok dan itu adalah satu keniscayaan saat kita berada di negeri manapun, termasuk Indonesia.

32.Jadi beda sekali antara pluralisme dengan pluralitas, sama seperti bedanya antara komunisme dengan komunitas.

33.Dalam kata pluralisme dan komunisme, disana pendalaman pemahaman yang berlebihan (hiperbol) dalam penekanan arti kata plural dan komunal.

34.Kita faham betul segala sesuatu yang berlebihan (lebay) atau hiperbolis adalah sesuatu yang tak benar dan tidak pada tempatnya.

35.Itulah sebabnya komunisme dilarang di Indonesia, karena berlebihan dalam pemahaman yang menyikapi keberadaan secara komunal.

36.Demikian pula pluralisme sebenarnya adalah hal yang bertentangan dengan Pancasila karena menyamaratakan keberagaman, dimana kita menjunjung Bhineka Tunggal Ika.

37.Bhineka Tunggal Ika atau Unity in Diversity itu menampung segala Komunitas dan Pluralitas, tapi tak memberikan tempat kepada komunisme dengan pluralisme.

38.Pluralisme padanan adalah komunisme dan individualisme, yang kesemuanya bertentangan dengan faham bangsa Indonesia dan umat Muslim tentunya.

39.Tapi bangsa ini masih menerima komunitas serta pluralitas sebagai bagian dari rakyat Indonesia, dan juga menghargai hak individualitas dari setiap rakyatnya.

40.Bisa dibedakan antara faham pluralisme yang tidak sesuai dengan bangsa ini dengan keberagaman (pluralitas) yang sudah ada pada bangsa ini sejak jaman dahulu?

41.Kita menghargai pluralitas, namun tak memberi tempat pada faham pluralisme bagi bangsa Indonesia.

42.Sama seperti halnya kita menghargai komunitas, tapi tak menerima faham komunisme bagi bangsa ini.

43.Jika sesudah penjelasan ini masih ada yang bersikukuh mempertahankan faham pluralisme seperti yang dijunjung oleh Gus Dur, Anda salah besar.

44.Gus Dur tak pernah meneriakkan ayo hidupkan semangat pluralisme.Yang benar adalah Gus Dur sangat menjungjung plularitas dari bangsa ini.

45.Karena saya yakin, tidak ada faham yang bisa saya anut, kecuali faham agama Allah yang benar semata.

46.Faham-faham buatan manusia yang berdasarkan landasan adanya komunitas, pluralitas, mayoritas tidaklah tepat untuk diterapkan bagi bangsa Indonesia.

47.Entah itu faham Komunisme, Pluralisme ataupun Majorisme, kesemua isme-isme itu sangat mungkin tak sesuai bagi bangsa ini.

Perbedaan Mendasar Antara MAYORISME dengan MAYORITAS
48.Tahukah Anda apakah majorisme (mayorisme) itu? Ini adalah pemahaman sebagian besar rakyat Indonesia yang katanya mengedepankan demokrasi dengan cara musyawarah dan mufakat.

49.Tapi terkadang, faham majorsime lebih didahulukan daripada faham musyawarah mencari mufakat di dalam demokrasi kita.

50.Saya sendiri tak pernah setuju dengan faham demokratisme yang bagi saya sungguh tidak sesuai dengan jiwa bangsa ini yang suka bermusyawarah dan mufakat.

51.Majorisme dalam demokrasi kita sering dilakukan saat kita selalu mengeluarkan "VOTING" sebagai cara terakhir dari pengambilan keputusan saat musyawarah tak mendapat mufakat.

52.Majorisme sangat bertentangan, dalam iklim demokrasi kita, padahal kita adalah mayoritas muslim terbesar di dunia.

53.Apakah mayoritas (atau majoritas) muslim di Indonesia menganut faham mayorisme? Tidak juga, namun itulah yang terjadi di parlemen kita.

54.Banyak politis kita yang berlandaskan nasionalisme dan demokratisme, menggunakan faham yang berbeda dari landasan idealisme mereka, yakni majorisme.

55.Sistem pengambilan keputusan dengan voting adalah berangkat dari faham yang dianut mayoritas para anggota parlemen, dan hal ini disebut majorisme (mayorisme).

56.Voting dan majorisme tentu sangat bertentangan dengan azas negara kita Pancasila, sila ke empat. "Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Permusyawaratan Perwakilan".

57.Namun masih saja hal ini dilakukan sebagian besar politisi kita yang menyandangkan nama demokrasi di tubuh partainya. Padahal, itu bukanlah budaya bangsa kita.

58.Voting dalam majorisme adalah pemahaman setan yang disusupkan dalam benak para politisi kita yang menganggap kebenaran itu adalah yang didukung majoritas.

59.Padahal tidak semua kebenaran PASTI didukung oleh kebanyakan orang yang ada.

60.Para politisi yang berfaham mayorisme dengan mendukung VOTING sebagai satu senjata akhir, sama halnya dengan memaksakan kebodohan sebagai jalan pintas kebijakan publik.

61.Bagi mereka pemahaman mayoritas yang ada dalam pengambilan keputusan berdasarkan VOTING adalah final dari kebijakan. Ini kebohongan terbesar dari faham sesat kebanyakan politisi.

62.Kita harus meluruskan, bahwa musyawarah mencapai mufakat adalah hal tertinggi yang ada di bangsa ini, terutama dalam menjalankan idealisme negara kita.

63.Itulah sebabnya mengapa ada MPR sebagai lembaga terti9nggi negara setelah DPR sebagai badan legislatif dari setiap kebijakan yang akan dibuat ini, MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) bukan MVR (Majelis Voting Rakyat) bukan?

64.MPR adalah majelis tertinggi dalam setiap pengambilan keputusan yang menjadi TAP MPR dan harus dijalankan oleh presiden republik ini.


Pengkebirian Fungsi dan
Tugas MPR
66.Pada kenyataanya, semenjak era reformasi 2008 lalu, fungsi dan tugas MPR seperti dikebiri, sehingga wacana musyawarah dalam mencapai mufakat tidak lagi menjadi landasan pengambilan keputusan.

67.Maka mayorisme yang mendominasi, dan votinglah yang menjadi senjata utama dari puncak pergolakan rakyat Indonesia yang dimulai dengan demonstrasi para mahasiswa dan beberapa elemen lapisan masyarakat kita di era reformasi.

68.Saya tidak pernah mengatakan era reformasi menjadi kebablasan, namun saya hanya menyayangkan, mengapa faham majorisme (mayorisme) menjadi puncak dari segala keputusan.

69.Lalu dimana fungsi kecerdasan dan intelektualitas para wakil rakyat di DPR? Jika segala sesuatu harus dilakukan VOTING dengan alasan "demokrasi" yang sebenarnya identik dengan mayorisme.

VOTING Bukanlah Alat Pembenaran dari Keputusan
70.Tentunya Anda tidak setuju bukan, bahwa kebenaran itu ditentukan dari banyaknya masyarakat yang memahami dan mendukung dari kebenaran tersebut, ini sama halnya dengan busa di lautan, mudah hilang dan semu.

71.Padahal kebenaran itu tidaklah semu dan tidak bisa mudah hilang dari kesadaran kita.

72.Dengan begitu, maka mayorisme sangat bertentangan dengan semangat "musyawarah demi mufakat" yang selama ini kita anut.

73.Mayorisme khususnya pengambilan keputusan dengan VOTING adalah pembodohan rakyat yang bersifat sistemik.

74.Mayorisme khususnya pengambilan keputusan dengan VOTING adalah kesalahan fatal dari era reformasi yang masih bisa kita perbaiki, dengan kembali kepada budaya bangsa kita.

75.Mayorisme dengan pengambilan keputusan VOTING sudah terbukti hanya menimbulkan mudharat (kerusakan) parah yang tak bisa diampuni serta tak bisa diperbaiki kecuali dengan perubahan.

76.Mayorisme adalah bentuk faham pembodohan yang paling sering dilakukan dalam budaya demokrasi yang lebih cenderung kepada oligarki dan monarki.

77.Kasus korupsi yang terjadi dan subur tumbuh di segala tingkat kepemimpinan bangsa ini adalah akibat dari mayorisme yang penuh dengan kebodohan di tubuh mayoritas parlemen kita.

78.Mereka yang mengagungkan kemenangan demokrasi dengan banyaknya jumlah suara adalah mereka yang sengaja atau tidak membuka pintu selamat datang kepada kejahatan publik dengan mengatasnamakan demokrasi.

79.Akhirnya bisa saja di kemudian hari generasi berikutnya yang sejatinya adalah anak-anak kita, akan memberontak karena tidak tahan dengan demokrasi itu sendiri yang selalu mendahulukan voting kebodohan daripada musyawarah mufakat demi kepentingan kebutuhan rakyat.

80.Demokrasi jadi alasan untuk faham buruk mayorisme bisa ditumbuhkembangkan dalam negara yang katanya menjunjung Ketuhanan Yang Maha Esa ini.

81. Padahal mereka yang mengusung semangat VOTING untuk pengambilan keputusan akhir adalah wakil hawa nafsu dan wakil setan yang dipilih rakyat, dan mereka pendusta-pendusta bangsa, mereka hampir mirip dengan pendusta agama.

82.Hanya saja mereka mendapat dukungan rakyat yang notabene terlalu bodoh untuk mengetahui bahwa wakilnya adalah seorang pendusta dan bodoh dalam pemahaman kerakyatan.

83.Di sinilah agama Islam menjadi solusi atas faham mayorisme yang sesat dan jadi hal yang umum dipakai oleh politisi kita dengan tameng demokrasi.

84.Jika demokrasi seperti pemahaman para politisi dengan idealisme voting sebagai putusan akhir dan mayorisme sebagai bukti pembenarannya, maka saya adalah orang pertama yang menentang demokrasi.

85.Karena bagi saya demokrasi itu hampir identik dengan suara rakyat, bukan suara sekelompok wakil rakyat (mayorisme). Betulkah pemahaman "Suara Rakyat, Suara Tuhan"?

86.Bisa jadi benar, para wakil rakyat itu bertarung dengan keilmuan dan keahlian mereka bermusyawarah demi kepentingan dan kebutuhan rakyatnya. namun menjadi sesat saat mereka mengambil keputusan berdasarkan VOTING anggota dewan.

Para PENGUSUNG MAYORISME adalah PENDUSTA DEMOKRASI
87.Ya betul sekali, para wakil rakyat yang sekarang duduk di dewan dan mengandalkan mayorisme sebagai senjata pamungkas demokrasi yang mereka teriakkan itu adalah PENDUSTA sebenarnya bagi rakyat kita.

88.Tidakkah mereka tahu, bahwa faham mayorisme itu akan bermuara pada konspirasi jahat yang berujung dengan politik jual beli keputusan berdasarkan jumlah suara terbanyak voting. Sungguh kejahatan sistemik yang membahayakan.

89.Tak heran korupsi, kolusi dan nepotisme begitu mewabah di tingkat badan legislatif, yang akhirnya menular ke eksekutif dan yudikatif kita, farena faham mayorisme begitu menggila.

90.Pernahkan Anda mendengar ucapan populer berikut ini, "Kalau saya nggak ikutan ya saya akan digilas juga." Ini buah dari faham mayorisme.

91.Naudzu billahi min dzalik! Istilah itu keluar karena faham mayorisme begitu masuk secara sistemik ke dalam tubuh parlemen hingga tingkat terendah.

92.Kembali kepada kesalahpahaman faham Pluralisme, Komunisme dan terakhir Mayorisme yang kini menjadi pilihan banyak orang di Indonesia, padahal itu adalah kesesatan tipuan setan.

93.Kesemua faham itu jadi landasan berfikir baik sedikit maupun mendasar bangsa yang katanya mengaku sangat menjunjung budaya agung ketimuran.

94.Tidak ada kemuliaan dan keagungan bagi bangsa Indonesia, jika dia meninggalkan budi pekerti dalam ajaran agama yang selalu mengingatkan bahwa setan "pemahaman" adalah musuh kita yang sesungguhnya.

95.Selama kita tidak sadar bahwa pemahaman yang sesat adalah cara setan menanamkan kebodohan dari awal gaya hidup kita, maka sejak itulah kita dalam kesesatan nyata.

96.Kembali mengingatkan bahwa pemahaman yang berlebihan adalah berhala kebodohan yang dikultuskan alam bawah sadar kita.

FAHAM (ISME) SESAT adalah Jalan Setan Yang Diikuti Tanpa Sadar dan Tanpa Kecerdasan
97.Pengkultusan pemahaman sesat seperti pluralisme, komunisme dan mayorisme merupakan jalan setan yang harus kita jauhi.

98.Jika kita tak segera berhenti dan keluar dari pemahaman sesat itu, maka tunggu saja kehancuran bangsa ini yang akan terjadi kurang dari satu dekade.

99.Namun Allah yang Maha Penyayang, selalu memberi perlindungan dan pengampunan bagi hambaNya yang mau segera bertobat dari kesalahan dosa pemahaman sesat yang pernah dilakukan.

100.Tak ada kata terlambat, jika kita mau berubah dari pemahaman sesat pluralisme, komunisme dan mayorisme menjadi pemahaman yang lebih mendahulukan perintah syariat agama daripada faham buatan manusia.

101.Karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,bangsa ini pasti bisa berjaya di masa depan, meskipun mereka yang tak mempercayai keagungan syariat ajaran agama tidak menyukai tulisan saya ini.

Artikel ini berlanjut dalam tulisan berikutnya.

FORMULIR KEMITRAAN

Klik di sini untuk pengisian formulir kemitraan usaha waralaba
Kotak Makanan Lunch Box dan Kardus Packing

Popular Posts

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2021. RUBY Digital Printing Pesan Jemput Antar 081385386583 - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger