English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sukses Pemilu 2014 Hanya 60% Setara Partisipasi DPT

Senin, 28 April 2014

Lilik Hariyoso:
"Prestasi KPU Hanya Berhasil Menyenangkan Penguasa, Tidak Bagi Rakyat"

Lilik Hariyoso, Caleg PDIP Dapil 5 terpilih Kembali Duduk di DPRD
Banyaknya kesalahan yang terjadi pada Pemilu (Pemilihan Umum) 2014 kali ini terutama di banyak daerah di Indonesia menjadi catatan tersendiri bagi penyelenggara pemilu, termasuk bagi para peserta pemilu terutama tokoh parpol (partai politik) dan para caleg (calon legislatif).

Baik caleg yang menang maupun caleg yang kalah mereka hampir mempunyai pengalaman yang sama tentang tingkat keberhasilan penyelenggaraan pemilihan umum kali ini, bahwa keberhasilan pemilu salah satu indikatornya adalah dilihat dari keikutsertaan rakyat dimana dalam hal ini yang tercatat dalam DPT (Daftar permilih Tetap). Mereka semua sepakat keikut sertaan rakyat yang hanya mencapai 60% adalah bukti tidak maksimalnya kinerja KPU pada pemilu kali ini.

Sebagai dimulai dari pendataan DPT sendiri saja, KPU termasuk gagal menjalankan UU Pemilu atau Peraturan KPU (PKPU) yang sudah jadi juklak (Petunjuk Pelaksanaan)nya. Kesimpangsiuran serta tidak validnya DPT yang dipergunakan pada pemilu kali ini menunjukkan KPU tidak melakukan upaya perencanaan yang baik.


Seharusnya DPT sudah divalidasi atau direvisi dan koreksi selambat-lambatnya 1 tahun sebelum pelaksanaan pencoblosan. Karena dari masa satu tahun itulah pihak pemerintah akan merencanakan penganggaran untuk menggelontorkan dana kebutuhan logistik yang jadi pekerjaan rumah KPU. Namun hal ini tidak bisa direalisir oleh KPU.

Lilik Hariyoso, S.Sos, Caleg PDIP Dapil 5 Raih 6.230 suara
Lilik Hariyoso, caleg PDIP dari daerah pemilihan (dapil) 5 DPRD Kota Bekasi dihubungi hari Sabtu, 26 April 2014 di kediamannya, yang kini termasuk salah satu dari 50 kandidat yang berhasil dan akan duduk di jajaran dewan mengungkapkan bahwa kinerja penyelenggara pemilu kali ini menunjukkan tidak mempunyai perencanaan yang baik dan optimal, sehingga banyak sekali dijumpai kesalahan dan ini menimbulkan permasalahan potensial menjurus kepada pengkondisian agar hasil pemilu bisa dimanipulasi menguntungan penguasa di satu daerah bahkan besar kemungkinan di tingkat nasional. Jika mau ditelusuri kinerja buruk KPU yang tidak terencana dengan baik ini dimulai dari awal-awal penentuan DPT hingga puncaknya penghitungan suara setelah masa pencoblosan.

"Rata-rata yang jadi dan berhasil duduk di dewan adalah mereka yang mau bekerja sungguh-sungguh di grass root (akar rumput), apalagi bagi inkamben (incumbent), jika mereka menjaga hubungan dengan konstituen selama mereka duduk di dewan, kemungkinan besar mereka bisa terpilih kembali. Tapi jika hanya duduk manis tak berbuat buat akar rumput, bagaimana mereka bisa dipilih kembali?" beber Lilik Hariyoso yang pada pemilu ini berhasil mendulang 6.230 suara ditambah suara partainya PDIP sehingga mendapat 1 kursi dari dapil 5.

Melihat pengalaman politik dan rekam jejaknya, Lilik Hariyoso memang bisa dibilang politisi handal, gaya berbicara yang penuh diplomasi penampilan yang akrab dan selalu tahu kapan mengatakan tidak atau ya, membuatnya termasuk salah satu tokoh yang asyik diajak bicara. Tapi apakah itu juga yang membuatnya bisa kembali terpilih menjadi wakil rakyat, maka kita harus melihatnya lebih dalam saat dirinya membangun komunikasi dengan akar rumput melalui banyak orang seperti tokoh penting di tingkat lingkungan seperti RT maupun RW tak terkecuali pengurus Kelurahan. Karena hanya dengan menjaga hubungan baik dengan mereka, maka apa yang kita harapkan bisa dimengerti dan ditangkap oleh mereka, demikian ungkapnya tentang bagaimana seharusnya seorang tokoh masyarakat menjaga konstituen.
Ketidakcermatan perencanaan dan ketidakseriusan menangani penyelenggaraan pemilu adalah bentuk kegagalan KPU dalam bentuk kualitas pemilu kali ini.

Bukan hanya partisipasi rakyat dari segenap lapisan yang tidak sesuai dengan harapan, tapi juga kesiapan teknis para pengelola pemilihan umum yang terseok-seok sehingga membuka celah bagi setan untuk kepentingan kelompoknya dan pada akhirnya mereka yang dirugikan akan melakukan perlawanan secara hukum. Hal ini berarti jadi pekerjaan besar MK (Mahkamah Konstitusi) yang kali sudah menerima sedikitnya 2000-an kasus pemilu yang tak mungkin bisa diselesaikan hingga akhir tahun ini dimana penggantian masa jabatan anggota parlemen dan penentuan pemilihan presiden 2014.

Bukankah ini bisa menimbulkan kecurigaan bahwa ada rekayasa besar dari pihak penguasa yang tak terlihat yang sengaja membiarkan penyelenggaraan pemilu yang legal dan konstitusional berjalan tersendat-sendat.

Sepertinya bangsa Indonesia yang telah 68 tahun merdeka ini memang belum cukup umur untuk bisa menikmati kemerdekaan sejati dimana memilih pemimpin yang sesuai dengan keinginan atau mau mengerti kebutuhan rakyatnya, tentunya dengan cara yang JURDIL (jujur, adil) dan LUBER (langsung, umum, bebas dan rahasia).

Dan sepertinya kejujuran serta keadilan belum bisa dijumpai pada pemilu kali ini, karena disinyalir masih banyak sekali terjadi kesalahan yang berpotensi akan kecurangan. Mungkin pemilu 2014 ini baru memenuhi kriteria "langsung" dari slogannya JURDIL & LUBER.

JURDIL & LUBER

Bagaimana pemilu kali ini bisa dibilang Jurdil dan Luber jika pokok-pokok berikut belum semuanya terpenuhi.

1. Pemilu 2014 belum JUJUR, karena masih banyak didapati ketidakjujuran para penyelenggara pemilu dan peserta pemilu mulai dari penentuan DCS hingga menjelang hari akhir pencoblosan, tidak perduli partai apa pun mereka. Jadi apakah layak hasil pemilu kali ini semuanya diklaim sebagai orang yang jujur dan pantas diberi amanah jadi wakil rakyat, jika ketidakjujuran masih dominan di semua lapisan?

2. Pemilu 2014 belum ADIL, karena masih banyak ditemui kecurangan yang merugikan pihak lainnya bahkan terkadang rakyatpun dirugikan dengan cara berkampanye politik yang bersifat transaksional.

3. Pemilu 2014 belum LANGSUNG? Bisa jadi beberapa daerah mungkin sudah bisa melakukan pencoblosan yang langsung tanpa perantara dalam menentukan calon wakil rakyat. Namun jika diperhatikan ada beberapa daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera seperti kepulauan Nias, atau beberapa provinsi di Indonesia bagian timur seperti Sulawesi dan lainnya masih terjadi pemilu yang tidak langsung. Malah ada beberapa kasus dimana surat suara didapati sudah dicoblos dan dengan sengaja dimasukkan ke dalam kotak suara untuk dihitung. Kasus di pulau Nias bahkan sempat direkam kamera ponsel dan ditayangkan oleh televisi swasta, metroTV secara nasional. Sungguh ini satu bentuk pelecehan kepada pemilu oleh sebagian bangsa ini.

4. Pemilu 2014 belum UMUM. Hal ini bisa dilihat dari keikutsertaan seluruh rakyat yang sudah punya hak pilih masih belum maksimal, karena pihak KPU sendiri sudah mengeluarkan data bahwa hanya sekitar kurang lebih 60% dari DPT yang datang ke TPS di seluruh Indonesia. Sungguh ini angka yang mengecewakan meskipun tidak sedikit pihak yang mengatakan pemilu ini katanya lumayan lebih baik. Padahal bisa jadi ini adalah pemilu yang paling besar ketidakikutsertaan pemilihnya, dan itu bukan katanya-katanya.

5. Pemilu 2014 belum BEBAS, karena masih saja dijumpai beberapa warga masyarakat yang diancam jika mereka tak memilih caleg atau partai tertentu maka mereka akan mendapat kesulitan. Penulis memang masih memerlukan data yang membuktikan fakta ini, namun tidak semua saksi dan mereka yang diancam berani menjadi narasumber.

Penandatanganan Pleno Rekap Penghitungan Suara KPUD Kota Bekasi
6. Pemilu 2014 belum RAHASIA, karena masih saja ada pihak-pihak tertentu yang memberikan ancaman kepada sebagai rakyat kecil bahwa jika mereka tidak memilih caleg atau partai tertentu, maka akan dengan mudah dideteksi oleh pihak melalui kerjasama dengan penyelenggara. Hal ini membuktikan bahwa ketidaktahuan rakyat kecil tentang kebebasan dan kerahasiaan memilih adalah hak pribadi semua orang yang tak bisa diganggu oleh siapapun. Lalu mengapa masih ada yang ketakutan, karena penyelenggara tidak pernah melakukan sosialisasi bahwa pemilu itu bersifat bebas dan rahasia, dimana setiap warga negara punya hak bebas dan rahasia memilih siapapun tanpa tekanan. KPU dan jajarannya tidak berhasil melakukan pencerahan kepada para pemilihterutama rakyat kecil, sehingga peristiwa ancaman dan intimidasi pihak tertentu itu terjadi. Sekali lagi penulis sudah sedang mengumpulkan bukti-bukti ancaman ini saat tulisan ini dipublikasikan.

Jadi apakah menurut Anda pemilu 2014 sudah JURDIL dan LUBER?

SidikRizal - webrizal.com


BIODATA CALEG DPRD KOTA BEKASI
DAPIL 1 PDIP NO.URUT 1

Nama lengkap : H.LILIK HARIYOSO, S.SOS
N.I.K. 3275011801600009
Tempat/Tgl Lahir : PD.BRAHRANG / 18-01-1960
Jenis kelamin : Lelaki
Agama : ISLAM
Status : KAWIN
Nama Istri : HJ.NURIYATI
Jumlah Anak : 3

Alamat Rumah :
JL.KUSUMA TIMUR RAYA C7 NO.13
RT.001 RW.003
KEL AREN JAYA
BEKASI TIMUR
KOTA BEKASI
Prov. JAWA BARAT

Pendidikan terakhir : S1
Pekerjaan : ANGGOTA DPRD KOTA BEKASI
Penandatanganan Saksi Hasil Pleno perhitungan Suara KPUD Kota Bekasi

Benarkah Pola Kampanye Politik 2014 Kampungan?

Jumat, 25 Oktober 2013

Kampanye Konvensional vs Kampanye Kerakyatan
  
Kampanye total yang selama ini dilakukan oleh banyak praktisi partai politik di Indonesia menjelang saat pemilu bisa dikatakan semakin modern dan canggih. Jika mereka yang ambil bagian dalam kampanye di segala bidang tidak melakukan penyesuaian mengikuti perkembangan modernitas dunia komunikasi yang sarat dengan percepatan penyampaian informasi dan semakin terbukanya jaringan komunikasi sosial, maka bisa dipastikan ketertinggalan menjadi penghambat utama.

Peningkatan elektabilitas partai Hanura secara organisasi politik maupun figur tokoh capres dan cawapresnya pada akhir tahun 2013 ini telah membuktikan betapa sokongan media informasi terutama yang mempunyai kecepatan dan penetrasi kuat ke tengah masyarakat luas menjadi hal yang mutlak.

Semenjak bergabungnya tokoh pengusaha media dan politisi muda, Harry Tanoesoedibjo, dan kemudian didapuk oleh Wiranto sebagai calon wakil presiden Partai Hanura, membuktikan pernyataan di atas.

Pada prinsipnya elektabilitas sangat mungkin dan bahkan bisa dipastikan disebabkan oleh promosi media elektronik baik televisi maupun radio termasuk kampanye online internet yang bersifat tailor need information.

Namun semua tahapan sosialisasi dan kamunikasi kampanye yang mulai disadari keniscayaan dan kepentingannya ini oleh semua pemain politik ditingkat elit masih bersifat top-down atau dengan kata lain hanya sekadar corong informasi dari atas ke bawah, dan ini sudah menjadi kebiasaan berkampanye sejak era orde lama, orde baru dan bahkan era reformasi kemarin. Meskipun di jaman era reformasi lah corong komunikasi yang bersifat bottom-up mulai subur menjamur.

Penggunaan media komunikasi yang bersifat interaktif seperti facebook dan twitter pun digunakan banyak politisi sebagai salah satu pendukung "penting" dalam pencitraan publik yang paling efisien dan efektif selama beberapa tahun terakhir ini. Cara berkomunikasi ini pun masih bisa dikategorikan mempunyai keterbatasan.

Kita lihat kapasitas Facebook sebagai jaringan media sosial yang populer dan berhasil mengangkat pencitraan presiden AS Barack Obama di awal tahun 2004 dan juga mempunyai keterbatasan. Tahukah Anda jika sebuah akun fesbuk (facebook dalam lidah kita) seorang yang begitu populer akan menutup secara otomatis jika jaringan link pertemanannya sudah mencapai angka tertentu.

Di Indonesia, seorang tokoh populer biasanya dibatasi sesuai pengaturan settingan baku atau otomatis pada jumlah 5000 link pertemanan. Jadi jika ada orang yang ingin membuka link dengan jaringan akun fesbuk yang diminati, terkadang keluar pop-up menu petunjuk pembatasan, seperti "Maaf akun yang bersangkutan sudah mempunyai jaringan pertemanan lebih dari 5.000 akun". Dan ini sungguh membuat media sosial fesbuk jadi jaringan yang terbatas.

Lain halnya dengan media sosial seperti twitter, yang bisa mempunyai follower hingga ratusan ribu, bahkan ada banyak akun selebritis luar negeri dan tokoh politik dunia yang mempunyai follower puluhan juta orang. Sebuah survey mengeluarkan data 10 orang di dunia yang mempunyai follower akun twitter terbanyak di dunia. Dari hasil survey itu dapat diketahui bahwa 3 urutan pertama terbesar di dunia diduduki oleh artis, Justin Bieber, Lagy Gaga dan Katie Perry, baru urutan ke-4 adalah Presiden AS Barack Obama yang mempunyai 30juta follower seluruh dunia. Hal ini juga bisa berarti para pengguna twitter seluruh dunia memang dipegang oleh remaja, usia muda dan kaum muda yang peduli politik. Hal ini berlaku di Indonesia dan tak jauh beda.

Lalu bagaimanakah cara para politisi di indonesia bisa mendapatkan hal serupa, yakni mendongkrak popularitas melalui dunia maya dengan asumsi para audiens target adalah mempunyai karakter yang sama. Asumsi ini berdasarkan data para pemilih pemula untuk pemilu mendatang yang jumlahnya cukup signifikan dari keseluruhan total rakyat Indonesia yang populasinya berjumlah 250 juta jiwa. Apakah bisa para politisi yang dalam hal ini cawara (calon wakil rakyat) maupun capres dan cawapres mendatang mendapatkan follower hingga puluhan juta seperti selebriti dunia itu? Mengapa tidak?

Jika partai politik sebagai yang berbasiskan ideologi kerakyatan dengan pendekatan komunikasi berjuang bersama rakyat, membangun bersama rakyat dan tak akan khianat kepada rakyat, maka tentunya target perolehan dukungan suara sangat mungkin bisa didapat seperti halnya simpati konstituen pendukung Barack Obama yang berkomunikasi secara interaktif melalui akun facebook dan twitter dengan perolehan pendukung hingga mencapai 32.165.575 pada akun @BarackObama. Sebuah jumlah yang pantas buat seorang capres dan cawapres RI juga bukan?

 Ada satu cara agar seorang capres ataupun caleg bisa mempunyai follower hingga jutaan seperti halnya yang didapatkan presiden Barack Obama. Lalu apa saja yang dilakukannya dalam bersosialisasi secara blusukan seperti halnya Jokowi yang tingkat popularitasnya melesat tinggi bersamaan elektabilitas ketokohan dirinya apabila digadang jadi capres mendatang.

Seorang kenalan sekaligus guru saya yang pernah menjadi konsultan kampanye SBY pada awal tahun 2004, yakni Yon Hotman, mengatakan metode kampanye Barack Obama adalah satu cara yang paling bisa diterapkan di Indonesia karena karakter publik di sana saat itu hampir mirip dengan Indonesia pada masa sekarang. Bisakah Anda membayangkan seorang kulit hitam seperti Barack Obama, mampu mencuri perhatian publik dengan kecerdasan dan karakternya uniknya yang jauh berbeda dengan sejarah kampanye para presiden pendahulunya yang mayoritas berkulit putih.

Jika diperhatikan lebih dalam, masyarakat Amerika Serikat mempunyai keragaman etnis yang kurang lebih sama dengan publik Indonesia, tapi bangsa Amerika Serikat tidak tinggal terpisah-pisah oleh lautan seperti halnya Nusantara. Mereka tinggal dalam satu daratan luas, yakni benua Amerika, dimana ada 50 negara bagian yang masing-masing dipimpin oleh gubernur. Namun secara umum keragamannya yang heterogen, membuat metode kampanye di negara adidaya itu tidak beda jauh dengan negara kita.


SUMBERDAYA PELAKSANAAN KAMPANYE MODERN
Partai politik yang sudah mempunyai legalitas dan jaringan kader baik itu yang militan maupun simpatisan semata dalam jumlah besar di seluruh Indonesia sejatinya mereka adalah agen-agen perubahan yang berpihak kepada rakyat. Tinggal memberdayakan para agen-agen  ini di akar rumput lah yang membuat kekuatannya semakin berdampak kuat dan positif menjelang pemilu 2014 mendatang.

Waktu yang tersisa begitu singkat kurang dari 2 bulan, namun tidaklah mustahil untuk melakukan seperti apa yang dilakukan para politisi dunia khususnya seperti perjuangan seorang Barack Obama yang telah menjadi presiden untuk periode kedua saat ini.

Intinya adalah apakah partai politik mau segera menyikapi kebutuhan rakyat Indonesia pada umumnya untuk bisa bersuara lebih bebas (baca: berkicau) tanpa harus melalui aturan protokoler atapun media massa besar seperti televisi sehingga bisa membuat dunia memperhatikannya? Ini adalah tantangan sekaligus potensi yang bisa dimanfaatkan sebagai media kampanye berbasis kerakyatan.

Seperti yang kita maklumi bahwa trias politika menjadi sebuah aturan main dalam dunia kekuasaan di sebuah negara. Lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif bekerja membangun jaringan kekuasaan demi kepentingan bangsa dengan cara mekanismenya sendiri, saling mengawasi saling mendampingi dan saling membantu demi berjalannya pemerintahan. Ternyata ada lagi satu kekuatan yang bersifat mengawasi dan menjembatani tiga kekuatan tersebut, yakni media massa.

Itulah sebabnya sejak zaman era Gus Dur menjadi presiden RI, maka euphoria kebebasan media pers berada di puncaknya, khususnya media main stream seperti media cetak, media elektronik dan yang terakhir media online.

Kesemua media main stream itu membutuhkan modal dan dukungan yang tidak sedikit, lalu jauh dari kebijakan kebebasan media pers itu dikeluarkan, timbul gelombang baru media warga yang lebih merakyat. Media warga atau yang lebih dikenal dengan istilah "citizen journalism" ini sejatinya adalah corong yang bersifat bottom-up seperti yang telah dijelaskan di atas. Berlawanan dengan media mainstream yang kebanyakan bersifat corong komunikasi top-down, maka fenomena baru media warga menjadi salah satu cara rakyat bisa "berteriak" dan bisa mempunyai peluang untuk diperhatikan dunia, tentunya dengan cara yang sangat mudah.

Jaringan kaderisasi partai politik di tingkat akar rumput sudah mencapai daerah-daerah yang meskipun masuk kategori tertinggal dengan kecanggihan teknologi komputer, tapi paling tidak mereka mempunyai sebuah alat komunikasi sederhana yang bernama telepon selular.

Seperti halnya motto penyedia alat komunikasi dunia seperti Nokia, "Connecting People" maka sudah menjadi kebutuhan mendesak jika partai politik memanfaat sumberdaya ini sebagai satu cara menghidupkan jaringan cyber media meskipun hanya menggunakan alat komunikasi sederhana berupa handphone jadul.

Tak perlu bermodalkan dana yang besar dalam mebuat jaringan di dunia maya dan menjadikannya sebagai kekuatan buat masa depan generasi kita berikutnya. Cukup hanya niat yang besar untuk meningkatkan pengetahuan semua lapisan masyarakat khususnya mulai dari level terendah, yakni rakyat biasa dibantu oleh agen-agen partai politik di tingkat pengurus anak ranting, maka jaringan komunikasi mega ini bisa terwujud.

Dampak dari peningkatan pengetahuan dan keahlian teknis kaum muda terutama kader muda dan kaum perempuan partai politik khususnya kepada level yang berinteraksi langsung dengan akar rumput baik itu dengan cara blusukan ataupun karena mereka tinggal bersama dalam satu keluarga, akan terasa langsung.

Proyek ini mungkin tak mampu menembus kalangan masyarakat yang tidak mengenal teknologi maupun memilikinya. Tapi justru itulah proyek pemberdayaan media kerakyatan ini jadi harus segera dilaksanakan, karena keberadaan mereka segera bisa kita ketahui dengan kerja keras kader parpol di tengah mereka dengan menyuarakan kepentingan rakyat lemah ke level para petinggi partai bebas hambatan bahkan jika perlu ke tingkat dunia. Justru dunia memang harus mengetahuinya, jika kita peduli kepada rakyat.

Adapun sumberdaya pelaksanaan proyek ini adalah:
1.  Dana Kampanye Bappilu DPP Partai Politik
2.  Dana Kampanye swadaya caleg juga pengurus struktural di semua level dibantu Bappilu DPP Partai
3.  Sponsorship tingkat nasional dan daerah.
4.  Pemasukan iklan melalui mekanisme jaringan internet seperti Google Ads dll.

METODE PELAKSANAAN KAMPANYE MODERN
Proyek ini adalah program pendidikan dan pelatihan bagi seluruh kader partai di tingkat terendah serta pembuatan media pribadi bagi kader atau struktur partai yang sedang mencalonkan diri jadi anggota dewan, dengan rincian sebagai berikut:
1.  Pendidikan dan Pelatihan membuat jaringan media warga
2.  Jasa pembuatan media pribadi blogs terpadu dengan media sosial dan SMS gateway
3.  Pendidikan pelatihan optimalisasi penggunaan gadget untuk kampanye total

Proyek ini terbagi menjadi beberapa bagian:
1.  Kampanye penggunaan media SMS Gateway
2.  Kampanye pemberdayaan kader parpol membuat jaringan media warga
3.  Kampanye sosialisasi berinteraksi langsung dengan penguasa via twitter
4.  Kampanye promosi apresiasi kader yang berhasil bangun jaringan media rakyat.
5.  Kampanye total caleg dan capres 2014 berupa INTEGRASI semua program Bappilu

TEKNIS PELAKSANAAN
Proyek yang berintegrasi dengan program Bappilu kampanye total caleg dan capres 2014 ini terbagi menjadi beberapa bagian:
a.  Media warga - Konsultan Komunikasi dan pemilik jaringan webrizal.com
b.  Media online mainstream - Bappilu DPP Parpol
c.  Media elektronik (TV dan Radio) - Bappilu DPP, DPD, DPC hingga yang terendah
d. Media cetak - Bappilu DPP, DPD, DPC hingga yang terendah
e.  Alat peraga - Bappilu DPP, DPD, DPC hingga yang terendah
f.  Sosialisasi "blusukan" seluruh caleg atau kader partai parpol, dan
g.  Program kampanye SMS Masking - Bappilu DPP, DPD dan DPC hingga struktur terendah.

Proyek ini dimaksud untuk memberikan pendidikan dan pelatihan singkat kepada seluruh kader partai politik agar bisa membuat media warga (citizen journalism) yang interaktif dan terpadu dengan jaringan media sosial seperti:
a.  twitter
b.  facebook
c.  google +
d. linkedin
e.  blogger seperti blogspot (atau wordpress jika perlu)
f.  youtube

WAKTU PELAKSANAAN
Waktu yang dibutuhkan untuk proyek pendidikan pelatihan dan juga pembuatan jaringan media rakyat yang bersifat terpadu adalah sekitar 5 (lima) bulan atau lebih. Untuk waktu pelaksanaan yang kurang daripada itu, maka bisa dialihkan pada kampanye pilpres yang pada tahun ini tidak dilakukan secara bersamaan.

TEMPAT PELAKSANAAN
Tempat pelaksanaan proyek ini jika memungkinkan bisa dilakukan secara serentak ke seluruh 330-an kota/kabupaten di seluruh provinsi di Indonesia. Menghidupkan marwah bicara lantang dan keras hingga didengar dunia harus menjadi motivasi bagi seluruh kader di tingkat akar rumput.

PENUTUP
Seberapa canggih dan terencananya sebuah program kampanye apapun jenisnya, jika tidak dilandasi dengan niatan mulia yang ikhlas demi kepentingan rakyat dan dijalankan bersama rakyat maka tidak akan ada artinya sama sekali.

Keinginan kuat untuk melaksanan niat baik tadi pun tidak akan ada artinya bagi suksesnya kampanye partai politik. Hal ini dikarenakan suksesnya kampanye 2014 mendatang bukan semata kerja dari seorang capres, yang semakin hari semakin jelas jatidirinya peduli kepada rakyat di mata Indonesia. Rekam jejak karir militer atau karir usaha sang capres dan karir politiknya merupakan nilai lebih yang belum sepenuhnya terekspos oleh media mainstream yang sarat dengan keberpihakan tersembunyi, sekalipun sosok tokoh nasional dan pengusaha sukses yang mempunyai media raksasa bergabung jadi cawapresnya atau iklan media televisi begitu membahanan menyerang udara nusantara selama setahun terakhir.

Dukungan dari akar rumput berupa keikutsertaan rakyat secara langsung dengan "media warga" atau "citizen journalism" yang terarah dan promotif dalam mengkampanyekan siapa pemimpinj sejati mereka yang dikenal mencintai mereka dan bukannya mencintai kekuasaan, harus segera difasilitasi secepatnya agar pemilihan umum 2014 mendatang bisa menentukan pemimpin yang baik dan terbaik untuk bisa menang jadi presiden RI berikutnya.

SidikRizal Pengamat Kampanye Politik Indonesia

Rakyat Indonesia Frustasi dengan Kepemimpinan SBY

Kamis, 09 Februari 2012

Liputan6.com, Jakarta: Berbagai masalah pelik semakin membuat bangsa terpuruk. Beberapa kalangan menilai, pemimpin yang diharapkan bisa bertindak tegas dan mampu mencari solusi, justru terkesan lembek.

Koordinator Indonext Center Yon Inf. Hotman mengatakan, saat ini rakyat Indonesia frustasi terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kepemimpinan SBY dianggap gagal sehingga melahirkan ketidakpastian hukum dan politik. Menurut Hotman, sejumlah orang yang pernah menjadi Tim Sukses SBY di Pemilu 2004, kecewa atas sikap Presiden.

"Saya memang kecewa atas sikap SBY, tapi saya tak harus menyesalinya. Saat ini saya ingin ada sosok baru sebagai alternatif kepemimpinan nanti," ucap Hotman dalam diskusi bertajuk "Pemimpin Cerdas, Bangsa Berkualitas" di Kampus Universitas Bung Karno, Jakarta, Kamis (9/2).


"Saya kira di antara orang-orang cerdas yang saya temui, Pak Yusril-lah yang paling mungkin memimpin bangsa ini ke depan."

Sementara pakar hukum Yusril Ihza Mahendra, yang juga menghadiri acara, mengaku merasakan hal serupa. Ia kecewa sikap kurang tegas yang kerap ditunjukkan Presiden Yudhoyono. "Bangsa berkualitas itu, membutuhkan pemimpin yang cerdas, dan berani mengambil keputusan tidak lembek dan peragu," ujar Hotman.(WIL/AIS)

Sumber : Liputan6

Kupu-Kupu Kertas Yang Telah jadi

Oleh : Yon Inf. Hotman, Founder of Indonesian Next Foundation Washington DC USA
Mon, 27/12/2010 - 07:25 WIB - sumber : Rima News

Menyusul  surat pembaca warga Cikeas di sebuah harian nasional beberapa waktu lalu soal gundahnya tiap kali SBY melintas di daerah mereka, lengkaplah sudah modal memahami betapa kini rakyat makin cerdas dan kritis.Tak  cuma ungkap problem tapi juga solusi.

Warga Cikeas itu minta SBY tinggal di Istana saja daripada meraung-raung di kediamannya. Ditambah komentar langsung menohok target oleh Syahganda Nainggolan Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle,” Bukan Presiden seharusnya curhat, tapi rakyat yang harusnya curhat.

Tulisan ini diniatkan untuk berbagi ragam cara mengungkap rasa di hati,di dada pun di perut ketika suara-suara Bebek di sekolah TK tak semerdu janji dulu. Mungkin mereka lebih memilih menyelam sambil minum Lumpur Basi Century atau karena terlanjur lahir sebagai penganut paham KKO: Kanan Kiri Oke, hingga siapapun sila pesan ragam jenis suara asal cocok di harga.

Kecuali via tulisan di media cetak & elektronik,melakukan aksi-aksi jalanan,beradu akal & otak di forum menceramahi penceramah atau berbalas pantun di seminar, lagu-lagu merupakan medium cerdas dan damai mengungkap ragam rasa yang mendera.

Sila simak, ” Seperti angin tak pernah diam/Selalu beranjak setiap saat/Menebarkan jala asmara/Menaburkan aroma luka/Benih kebencian kau tanam/Bakar ladang gersang/Entah sampai kapan berhenti menipu diri”.

Penggalan lagu Ebiet G Ade, ”Kupu-kupu Kertas” ini begitu menggetar haru karena diungkap dalam lagu yang membawa pendengarnya merenung sambil mengoreksi diri betapa rakyat tak lagi sebodoh dulu. Pun tak cuma sekedar santun basa basi tapi lagu ini canggih memetakan paradigma filosofis karakter pemimpin karbitan yang hanya pintar namun tak cerdas.

Banyak lagu Ebiet yang membantu mengurangi beban para kandidat demonstran dan yang memang bergelut di bisnis demo, beda cukong beda memo. Betapa damai dan indahnya demonstrasi jika ribuan orang menghanyutkan diri dalam senandung lagu-lagu,sebagai kekuatan rasa bukan hanya raga semata. Jika para pemimpin menipu yang dipimpinnya dengan topeng santun, tak perlu membalasnya dengan hal serupa. Cukup dengan lagu yang seperti pepatah Minang,”Pukul anak sindir menantu”.

Yang paling legendaris tentu syair Ebiet tentang Rumput yang bergoyang. Katanya,”Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita”.

Rasanya,tak salah jika mulai mencoba sesuatu yang baru dalam ikhtiar mengungkap rasa melalui gerakan, ”Power of Songs” sebagai alternatif atau malah pendamping, ”People’s of  Power” agar aksi-aksi menuntut perubahan tak berujung dendam versus dendam turunan setan.

Bila tak bakat menyanyi, membaca syair di jalan pun pasti lebih damai ketimbang teriak-teriak apalagi caci maki tak karuan. Bagi yang memiliki koleksi lagu-lagu sejenis, terkait empati terhadap bangsa dan negara, sila koleksi dan terbitkan buku lagu-lagu dimaksud hingga bisa membantu mereka yang membutuhkannya.

Dengan begitu, ikhtiar mengungkap rasa melalui “Power of Song” dalam “People’s Power’ akan memperlihatkan kepada bangsa-bangsa lain di dunia betapa kita adalah bangsa  yang cerdas  dan damai mempraktekkan adat ketimurannya.

Bila tak lagi ada asa di penantian panjang janji-janji pemimpin yang diumbar saat kampanye, lagu Ebiet "Yang Telah Selesai” membuat situasi lebih sejuk.

Jangankan untuk berfikir
sedang mendengar pun enggan
Jeritan pilu lewat bagai angin
Jantungnya telah membeku hooo
Jantungnya telah membeku.
Lupa segala-galanya
Tak merah, tak juga jingga
Rintihan kelu tak ubah nyanyian
Ibanya telah membatu hooo
Ibanya telah membatu.Semakin hari makin tak peduli
Semua harapan t’lah pupus
Matanya kosong, sinarnya binasa,bibirnya rapat terkunci
Dia bukan milik kita lagi terselubung dalam sepi
Masa lalunya begitu gelap
Benturan demi benturan
begitu berat menekan
Jangankan untuk menyapa
Sedang menoleh pun enggan
Lampu jalanan perlahan padam
Dia hanya pantas dikenang hooo
Dia hanya pantas dikenang.
Sekali waktu terbangun nafasnya tersendat-sendat
Sumpah serapah yang ia gumamkan
Dia hanya pantas dikenang hooo
Dia hanya pantas dikenang
Semakin hari makin tak peduli
Semua harapan t’lah pupus
Matanya kosong, sinarnya binasa,
bibirnya rapat terkunci
Dia bukan milik kita lagi
terselubung dalam sepi
Masa lalunya begitu gelap
Benturan demi benturan begitu berat menekan”.

Lanjutkan

Salut untuk Ebiet G Ade!Lanjutkan kreasi lagu-lagu baru demi anak cucu kita lebih bangga lebih kaya karena hidup di negeri raya dengan alam indah bak di surga pun karena para pemimpinnya cerdas luar biasa.Semoga lagu-lagu anda menjadi inspirasi  pemimpin-pemimpin kita saat ini dan selamat jalan,”Kupu-kupu Kertas Yang Telah Selesai”.

Soal moral, kata Iwan Falls,” Masalah moral masalah akhlak/Biar kami cari sendiri/Urus saja moralmu urus saja akhlakmu/Peraturan yang sehat yang kami mau/Tegakkan hukum setegak-tegaknya/Adil dan tegas tak pandang bulu/Pasti kuangkat engkau/Menjadi manusia setengah dewa”.

Simpulan mantu Almarhum Soeharto,Mayangsari,”Tiada Lagi” & Cucu jauh Om Liem, Agnes Monica, "Cinta Di Ujung Jalan".


Soal ketidakadilan, ”Perahu Retak” Franky Sahilatua menggugat, ”Aku heran yang salah dipertahankan yang benar disingkirkan/Keserakahan diagungkan.Tanah Pertiwi anugerah Ilahi jangan makan sendiri”.

Cengkarut negeri akan berujung”Hari Kiamat”diungkap Black Brothers,”Di tepi jalan si miskin menjerit hidup meminta dan menerima/Yang kaya tertawa berpesta pora hidup menumpang di kecurangan/Sadarlah kau cara hidupmu.

Icon-icon  lagu pun lebih manusiawi ketimbang jargon-jargon hewani seperti: Cicak Buaya, Sapi, Gurita, Tikus dan yang sejenisnya. Mestinya yang begini-begini yang dilanjutkan bukan yang begitu-begitu, seperti yang dilakon para koruptor penebar fitnah di balik topeng santun. Jangan biarkan demokrasi tereformasi jadi”santunkrasi”; licik asal santun, konstitusional. Lanjutkan lebih cepat lebih nikmat demi 9 turunan selamat sebelum kiamat!

FORMULIR KEMITRAAN

Klik di sini untuk pengisian formulir kemitraan usaha waralaba
Kotak Makanan Lunch Box dan Kardus Packing

Popular Posts

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2021. RUBY Digital Printing Pesan Jemput Antar 081385386583 - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger