English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Penambangan

Minggu, 10 Agustus 2014

Penambangan batu alam di kawasan gunung batu Cikembar, Kabupaten Sukabumi, sudah berjalan semenjak belasan tahun silam. Bahkan kini industri kecil pengolahan batu alam di wilayah kelurahan Cikembar semakin hari semakin berkembang.

Dan salah satu usaha penambangan batu alam yang paling besar di daerah seluas lebih dari 16 hektar itu, kini telah dimiliki oleh PT Multi Mineralindo, milik pengusaha muda, H.M. Pariyo, SE, MSi.

Manufaktur

Senin, 03 Agustus 2009


Hasil tambang yang dikelola oleh PT Multi Mineralindo, salah satu anak usaha PANJA Group yang utama adalah Green Stone dan Mineral Zeolite. Keduanya melimpah digali dari bumi Indonesia khususnya pulau Jawa, tepatnya di kawasan Sukabumi, Jawa Barat.


       PANJA Mineral - PT Multi Mineralindo

 









Manfaat Zeolite

Rabu, 15 Agustus 2007

Fungsi Utama Mineral Zeolite


Zeolite adalah bahan pelengkap tambahan yang digunakan bersama pada masa pemupukan bagi usaha pertanian.

Kegunaan Zeolite sendiri adalah menghindari kehilangan nutrisi pupuk melalui air dan suhu panas serta menambah daya tahan tanaman dan mengurangi serangan penyakit karena SiO2.


Berbagai hasil penelitian yang dilaksanakan baik di laboratorium maupun di lapangan menunjukan bahwa mineral zeolite mempunyai empat fungsi utama,yaitu sebagai penukar ion (ion-exchanger),adsorpsi (adsorption),katalisator (catalysit) dan penyaring molekul berukuran halus (moiccular sieving) Mumpton,1984b).

Penukar ion.prinsip dari proses pertukaran ion pada mineral ini adalah terjadinya muatan listrik negative di seluruh struktur zeolite (bukan hanya pada di permukaan) sehingga untuk keseimbangan muatan listrik tersebut di perlukan kation yang mobile atau counter ion dalam jumlah yang sama (Semmens,1984).

Dengan demikian,proses pertukaran kation tersebut merupakan pergantian ion-ion alkali dan atau alkali tanah pada struktur pembangunan zeolite dengan ion-ion terlarut di dalam tanah lainnya.Selain itu,kation-kation yang terperangkap dalam struktur zeolite ternyata tidak terikat secara kuat sehingga sangatlah mudah untuk dipertukarkan.

Kapasitas tukar kation (kVK) adalah suatu ukuran dari jumlah kation yang dapat dipertukarkan per unit berat atau isi : dengan kata lain merupakan jumlah kation yang tersedia untuk dipertukarkan.Kristal-zeolite merupakan bahan yang sangat efektif untuk pertukaran kation dengan nilai KTK berkisar art 100-300 me/100g (Semmens, 1984)

Berdasarkan hasil analisis,zeolite yang berasal dari leposit vayah,Lampung mempunyai nilai KTK berkisar antara 150-200 me/100g yang berarti hampir dua kali lipat dari mineral mountunorilonity dan vermiculite (mineral tipe 2:1/double layer) yang umumnya ditemukan pada tanah-tanah tingkat produktivitas tinggi seperti tanah adosol (Prodmin Inter Nusa,1995),Nilai KTK zeolite bayah tersebut hampir sama dengan KTK dari Humus.

Absorbsi.Zeolite dapat mengabsorpsi molekul apabila air yang dikandungnya telah di hilangkan melalui pemanasan dengan suhu tinggi,yaitu berkisar 350-400 ͦ C(Flanigen,1984).
Pada dasarnya absorpsi adalah penumpulan berbagai substansi terlarut dalam larutan antara 2 buah permukaan.

Dalam hal ini,berbagai molekul adsobate yang berdiameter sama atau lebih kecil dari diameter celah rongga dari struktur zeolite dapat diapsorpsi,sedangkan molekul yang berdiameter lebih besar akan bertahan dan hanya melintas antara partikel zeolite (Prodmin Inter Nusa,1995).

Dengan demikian,zeolite disamping mempunyai struktur rigrid juga polaritas sangat tinggi.

Penyaringan molekul

Proses penyaringan molekul oleh kristal zeolite terjadi melalui saringan antara partikel dan struktur rangka tiga dimensi yang porous (Flanigen,1984).

Dalam hal ini menyebabkan mineral zeolite lebih efektif sebagai penyaring,1 dibanding dengan penyaring konvensional lainnya.

Katalis Zeolite telah banyak digunakan dalam berbagai industri kimia dan obat-obatan sebagai bahan perantara yang dapat mempercepat dan atau memperlambat suatu reaksi kimia tanpa menyebabkan perubahan struktur kimia di dalamnya.

Pengaruh pemberian zeolite terhadap perbaikan produktivitas lahan terutama kapasitas tukar kation KTK tersebut ternyata meningkat dengan berkurangnya kandungan liat tanah (Mumpton,1981a)lebih jauh di simpulkan bahwa berkurangnya KTK karena pemberian zeolite mampu bertahan selama beberapa tahun pada lahan yang mempunyai kandungan liat tinggi.

Peningkatan Efisiensi Pempukan Anorganik
Zeolite dengan sifat utama, memiliki kapasitas tukar kation (KTK) dan selektifitas terhadap Ammonium dan Kalium yang tinggi, dapat digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan anorganik seperti Urea (N),SP-36 (P), dan KCl (K) kapasitas tukar kation untuk Zeolite yang ditemukan di Indonesia berkisar 150-200 me/100 g ( Prodmin Inter Nusa, 1995 ), sedangkan efektifitas kation berdasarkan berbagai hasil penelitian adalah berturut-turut (Cs-Rb,NH4,Ba Sr K Ca, Fe>Al>Mg>Li ( Ames, 1960 dalam Mumpton, 1984b).

Selain itu Zeolite mempunyai sifat sebagai penukar ion terutama logam Alkali atau Alkali tanah seperti Na, K, Ca,Ba, dan Mg, dan penyaring molekul yang baik sehingga diharapkan 1) hanya yang dierikan melalui pemupukan ataupun pelapukan pupukdengan pelepasan hara secara lambat (slow release fertilizer) (Lewis et.a1.1984; Flanigen 1984).

Mineral Zeolite bersifat basa sehingga dapat menetralkan tanah yang bersifat asam, mengurangi daya fiksasi P oleh koloid tanah (Sarief,1987), dan meningkatkan KTK serta aktifitas mikroorganisme dalam tanah ( Semmens,1984).

Pemberian Zeolite yang dicampur dengan pupuk N seperti urea atau ammonium sulfat dapat meningkatkan efisiensi melalui;
1) pengurangan kehilangan NO3N karena pencucian dan perkolasi,
2) meningkatkan ketersediaan ammonium teruta pada tanah dengan kandungan liat rendah (relative kurang subur) melalui penekanan proses nitrikasi dan volatilisasi NH4,
3) meningkatkan penyerapan N oleh tanaman dan,
4) mengurangi keracunan perakaran tanaman karena ammonia dan nitrat yang berlebihan (Lewis et.a1 1980; Barbarick and Pirrelli, 1984).

Dalam hal ini, ammonium yang dipertukarkan oleh Zeolite dilepaskan secara lambat sehingga berperan sebagai slow realease fertilizer, sedangkan mineral zeolitenya sendiri berperan sebagai penyangga (reservoir) ammonium yang berasal dari penguraian urea yang pada akhirnya akan menekan toksisitas ammonium dan nitrat melalui penekanan aktifitas bakteri dalam proses nitrifikasi.

Barbarick dan Pirrelli (1984) melaporkan bahwa pemberian Zeolite pada lahan sawah dapat meningkatkan ketersediaan N dalam tanah sebesar 63% karena terhambatnya koversi ammonium (NH4) menjadi Nitrat ( NO3 ) melalui proses nitrifikasi. Sehingga kehilangan Nitrat karena denitrifikasi juga menjadi berkurang. Berkurangnya proses nitrifikasi memberikan pengaruh positif terhadap ketersediaan fosfat karena berkurangnya fiksasi oleh kation-kation Al dan Fe.
Pemberian Zeolite pada tanah berstektur pasir berlempung dan liat lempung berdebu dapat menghambat konversi NH4 menjadi NO3 sebesar 30-40% (Mc Know, 1978 dalam Sunarto, 1995 ). Sedangkan Astiana ( 1995 ) melaporkan bahwa penggunaan Zeolite 0,5-1,0% yang dicampur pupuk urea 100-299 kg /ha mampu menekan kehilangan N melalui pencucian sebesar 19-20% dan volatilisasi sebesar 19=22%.
Hasil penelitian pada pertanaman padi sawah dengan jenis tanah alluvial di Karawang dan Subang serta grumosol di Sumedang menunjukan bahwa pemberian Zeolite yang dikombinasikan pemupukan Urea (200kg/ha), SP 36 (100kg/ha), dan KCl (100kg/ha) menyebabkan peningkatan hasil gabah kering tergantung pada takarannya (tabel 6).

Dalam hal ini Zeolite mampu meningkatkan ketersediaan N,P,dan K serta unsur lainnya sehingga pertumbuhan tanaman (yang ditunjukan oleh peningkatan tinggi tanaman dan jumlah anakan per rumpun) lebih baik yang pada akhirnya komponen hasil juga meningkat ( Bachrein et.a1., 1998).

Dari hasil analisis ekonomi ternyata keuntungan yang tertinggi diperoleh dari penggunaan Zeolite dengan takaran 200 kg/ha, yaitu sebesar RP.2.376.800/ha, untuk Subang, RP. 2,316.000./ha untuk Karawang dan RP. 1.912.00./ha untuk Sumedang (tabel 6). Pemberian Zeolite dengan takaran 200kg/ha tersebut dapat meningkatkan pendapatan bersih dibandingkan tanpa Zeolite berkisar RP.2.315-RP.3.455 untuk setiap kg Zeolite.

Tabel 6.    Hasil gabah kering , keuntungan bersih, dan tingkat efisiensi
                pemberian Zeolite pada penanaman Padi IR 64 di Subang,
                Karawang,dan Sumedang MT 1996/1997.      

Takaran
 Subang


    Karawang


Sumedang


Zeogaro
 Hasil
Keuntungan
   Efisien
    Hasil
Keuntungan   
Efisien       
Hasil
Keuntungan
    Efisien
(t/h)          
t/ha
(Rp)
    (%)
    t/ha
(Rp)
(%)
t/ha
(Rp)
    (%)
0
6,2
1.812,0
   100
    5,4
1.675,0
100
4,8
1.223,0
   100
100
7,2
2.214,0
   122
    6,7
1.985,0
119
6,1
1.786,0
   146
200
7,6
2.376,8
   131
    7,5
2.138,0
138
6,4
1.912,0
   156
300
7,1
2.121,0
   117
    7,2
2.122,0
127
5,7
1.578,0
   129
400
7,1
2.132,0
   118
    7,1
2.064,0
123
5,4
1.612,0
   132

Hasil analisis regresi menunjukan bahwa pola hubungan antara takaran Zeolite dengan hasil gabah kering bersifat kuadratik (tabel 7) dari persamaan tersebut , takaran maksimum pemberian Zeolit pada tanah Alluvial di Karawang dan Subang serta tanah Grumosol di Sumedang masing-masing 150, 200 dan 250 kg/ha, Takaran maksimum tersebut diperoleh dengan mencari turunan pertama dari setiap per samaan regresi: dy/dx = 0 (Gomez and Gomez, 1984).

Tabel 7. Model persamaan regresi antara hasil gabah kurang (y) dan takaran Zeolite (x) di Subang, Karawang dan Sumedang MH 1996/1997.


Lokasi
         Persamaan Regresi
         R2
        Takaran Zeolite



          Maksimum
Subang
         Y = 6,32 + 0.01 - 0.000002 X2
      0,332
               150
Karawang
         Y = 5,92 + 0.01 - 0.000002 X2
      0,622
               200
Sumedang
         Y = 4,91 + 0.01 - 0.000002 X2
      0,632
               250

Berbeda nyata dengan taraf  uji 5% , berbeda nyata pada taraf uji 1 %.

Sumber Bachrein,et.a1  (1998).

Sumber artikel : 

Mineral Zeolite

Rabu, 25 Juli 2007

Zeolite ditambang dari hasil alam asli Indonesia dan dimanfaatkan untuk kesuburan lahan pertanian. Zeolite adalah hasil tambang mineral yang banyak terdapat di daerah pegunungan di beberapa kawasan gunung berapi yang pernah aktif.

PANJA Mineral memproduksi zeolite langsung dari lokasi penambangannya di kawasan Jawa Barat dan langsung mengolahnya ke dalam pengemasan untuk selanjutnya didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia yang membutuhkan guna meningkatkan kesuburan lahan pertanian.


       PENAMBANGAN BATUAN ALAM
 
Alat olah bahan tambang mineral batu alam jadi Zeolite








       PROSES PRODUKSI ZEOLITE
      















Green Stone

Jumat, 04 Agustus 2006

Hasil Tambang PANJA Mineral, Batu Alam - Green Stone Sukabumi

Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil alam termasuk Batu Alam di dalamnya.

Berbagai jenis batu Alam sejak dulu sudah dimanfaatkan hal ini terbukti dengan banyaknya patung, candi dan peninggalan lainnya yang terbuat dari batu alam.

Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Kalasan adalah bukti nyata bahwa batu alam sudah eksis sejak jaman dulu kala.

Penggunaan berbagai jenis batu alam jaman modern di mulai sekitar awal tahun 1960 dimana batu alam sudah mulai banyak digunakan untuk bangunan namun dengan bentuk potongan sederhana dengan menggunakan pahat. Baru sekitar tahun 1970 para pengrajin batu alam mulai menggunakan gergaji sederhana untuk memotong batu alam.

Batu Candi atau Batu Lava tergolong batuan beku (Igenous Rock).
Batu Alam jenis ini terjadi akibat perubahan suhu dari lava dingin yang membeku menjadi Batuan Beku yang terjadi dari magma yang tidak keluar ke permukaan bumi menjadi mengeras dan membeku di dalam perut bumi.

Tingkat Kekerasan (density) batu lava sangat keras namun mempunyai porositas yang tinggi sehingga mudah menyerap air.

Warna batu candi adalah hitam dan cenderung homogen karena ada sebagain warna batu candi yang hitam agak keputihan dan mempunyai tingkat kekerasan yang sangat tinggi, tetapi ada juga yang hitam pekat namun mempunyai tingkat kekerasan lebih rendah dibanding yang berwarna hitam terang.
Batu Candi atau Lava Stone ini juga memiliki nama lain Borobudur Lava.

Dijual dengan ukuran yang standar mulai dari 10x20 sampai dengan ukuran 20x40 CM, ada juga ukuran yang tidak beraturan atau Irregular yaitu salah satu permukaannya Rata Mesin atau Rata Alam dan Bongkahan yaitu disamping ukuran yang tidak beraturan juga kedua permukaannya Rata Alam.
Finishing Batu Candi adalah Rata Mesin dan Rata Kulit (permukaan diketrik).

Kami berharap para konsumen dapat menikmati kualitas, keindahan, serta harga yang murah. Karena pada saat ini beberapa trend mengacu kearah alam yang dapat memeberikan kesan pedesaan, eksotis, mewah dan menghasilkan keindahan untuk interior maupun exterior.

Untuk Batu Candi memiliki warna Hitam dengan memiliki pori yang cukup banyak.
Sifat alami nan sejuk merupakan salah satu alasan mengapa batu ini memiliki banyak “penggemar”. Batu candi memang berawal karena sudah digunakan untuk membuat candi, stupa, dan patung. Kelemahannya memang mudah terserang lumut, tapi batu ini sering digunakan sebagai bahan dari elemen eksterior. Bagi yang suka dengan kesan alami, batu ini menjadi high recommended untuk Anda.

FORMULIR KEMITRAAN

Klik di sini untuk pengisian formulir kemitraan usaha waralaba
Kotak Makanan Lunch Box dan Kardus Packing

Popular Posts

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2021. RUBY Digital Printing Pesan Jemput Antar 081385386583 - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger