English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Penaklukkan SUNDA KELAPA, Asal Muasal KAUM BETAWI

Rabu, 29 April 2015

Pusat perkembangan Islam di tanah Betawi
Pelabuhan Sunda Kelapa
Penulis sedang melakukan kajian kepustakaan sejarah dari berbagai sumber dan membandingkannya antara satu sumber dengan sumber yang lain serta mencari kesesuaian serta mengambil hipotesa untuk dijadikan sebuah postulat yang akan saya uji dengan beberapa ahli sejarah lainnya, demi mencari kebenaran fakta sejarah itu sendiri.

Sebagai penulis saya memang harus banyak belajar dan membaca dari berbagai referensi baik yang datang dari luar negeri maupun dari dalam negeri tanpa mempertimbangkan faktor politis, demi sebuah tujuan mulia mencari kebenaran sejarah itu sendiri dimana sebagai peneliti saya beribadah dengannya dan mengharapkan ridho Allah semata sebagai harta warisan buat anak cucu saya dan buat kejayaan bangsa Indonesia serta kemaslahatan ummat muslim di kemudian hari.

SEJARAH yang saya akan teliti adalah tentang kebenaran apakah PITUNG sang tokoh legendaris Betawi itu keturunan Sunan Gunung Jati dan juga pahlawan serta mujahidin dan santri yang berjuang membela rakyat kecil dan lemah menentang penjajahan asing khususnya penguasa VOC, Hindia Belanda.

Pengungkapan fakta sejarah ini diharapkan akan mengangkat harkat dan martabat kaum Betawi yang selama ini hanya dicekoki tentang cerita tanpa kekuatan latar belakang sejarah yang menyatakan si Pitung adalah PERAMPOK, PEMERKOSA dan PEMBUNUH serta PREMAN seperti artninya yang negatif di zaman modern ini. Apakah mungkin seorang santri dan mujahidin dilabeli perampok dan mirip seperti tokoh RobinHood dari Inggris itu? Kita akan temui faktanya hingga tiba waktunya.

Berikut ini kutipan artikel tentang penaklukkan Sunda Kelapa dan kisah tokoh-tokoh yang berkaitan dengannya seperti siapakah Fatahillah dan siapakah Sunan Gunung Jati. Perlu diketahui adalah Sunda Kelapa juga merupakan nama dari Jakarta sebelum tahun 1527, yang akhirnya berubah menjadi Jayakarta atau kemudian populer dikenal sebagai tanah Betawi.

Dalam pelajaran sejarah, kita MASIH menemukan bahwa Sunan Gunung Jati, Syarif Hidayatullah, Fatahillah, Faletehan adalah nama  atau sebutan untuk satu orang yang sama. Jadi Sunan Gunung Jati alias Fatahillah alias Syarif Hidayatullah, alias Faletehan alias Tagaril.

Kesimpulan ini bersumber dari disertasi DR. Husein Djajadiningrat tahun 1913 yang menyatakan bahwa nama-nama itu merupakan sebutan untuk satu orang. Pendapat ini masih banyak memengaruhi para penulis sejarah.

Menurut Edi S.Ekadjati dalam Seminar Sejarah Jawa Barat di Sumedang tanggal 21-23 Maret 1974 yang mengambil sumber dari Carita Purwaka Caruban Nagari, menyatakan bahwa nama tersebut  merupakan nama dua tokoh yang berlainan.

Makam kedua tokoh itu sama-sama ditempatkan secara berdekatan di Pasir Jati Bukit Sembung Cirebon. Sunan Gunung Jati wafat tahun 1568 sedangkan Fatahillah wafat tahun 1570. Berdasarkan Carita Purwaka Caruban Nagari dijelaskan bahwa silsilah Sunan Gunung Jati yaitu bahwa Nyai Subanglarang ibu dari Nyai Lara Santang, nenek Sunan Gunung Jati adalah putri dari Ki Gede Tapa.

Ratu Singapura dan penguasa pelabuhan Muara Jati. Nyai Subang Larang lahir tahun 1404 dan menikah tahun 1422, kemudian dari pernikahannya lahir putri Nyai Lara Santang pada tahun 1426.

Nyai Lara Santang menikah dengan Sultan Mahmud dari Mesir. Dari pernikahannya itu lahirlah Syarif Hidayatullah pada tahun 1448. Sultan Mahmud masih merupakan keturunan dari Nabi Muhammad s.a.w dan Syarif Hidayaatullah merupakan keturunan yang ke 22.

Jika dihitung dari masa hidup Rasulullah jangka waktunya mencapai jarak 800 tahun. Karena Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati merupakan keturunan sultan, beliau berhak menggantikan ayahnya. Namun hal itu ditolaknya karena beliau lebih senang menjadi mubaligh di tanah Jawa yaitu di Tanah Sunda sebagai tanah leluhurnya.

Setelah mengembara di Pasai, Sunan Gunung Jati datang ke Banten. Islam berkembang pesat di Banten berkat usaha dakwah dari Sunan Ngampel yang berpusat di Surabaya. Kemudian beliau berguru kepada Sunan Ngampel. Setelah menjadi santri Sunan Ngampel, beliau menetap untuk menyebarkan Islam di Cirebon dan wafat tahun 1470 dan bergelar Maulana Jati atau Syech Jati atau Sunan Gunung Jati.

Dari uraian ini jelaslah bahwa Syarif Hidayatullah bukanlah Fatahillah. Siapakah Fatahillah, Faaletehan atau Tagaril itu?

Fatahillah lahir di Pasai tahun 1490. Ayahnya bernama Maulana Mahdar Ibrahim dari Ghujarat sehingga Fatahillah bergelar Fahillah Khan al Pasai Ibnu Maulana Mahdar Ibrahim Alghujarat.

Dalam berita Portugis Fatahillah disebut Tagaril yang merupakan sebutan dari Fahrillah yang artinya kemenangan dari Allah. Demikianlah kisah dua tokoh penting dalam sejarah perkembangan Islam di bumi Nusantara.
----

Jadi penulis mengambil kesimpulan dan hipotesa, sangat dimungkinkan sekali bila Fatahillah bekerjasama dengan Sultan Banten dan tentunya hal ini juga berhubungan dengan Sunan Gunung Jati karena mereka sama-sama para ulama muslim yang sedang mengembangkan ajaran Islam. Setidaknya kemungkinan terbesar adalah adanya kerjasama antara 3 orang, yakni Sultan Banten, Sunan Gunung Jati dan utusan Sultan Ternggono, yakni Fatahillah untuk merebut Pelabuhan Sunda Kelapa dari kekuasaan Portugis dan Kerajaan Pasundan pada masa itu. Hal ini seperti tertulis dalam sejarah Sunda Kelapa, dengan rincian sebagai berikut.

SEJARAH SUNDA KELAPA

Celana Cingkrang Itu Apa Sih?

Rabu, 25 Februari 2015

Bismillah.
Assalamu 'alaikum.
Selamat membaca.
Apa kabar Anda? Baik-baik saja bukan?
Pas banget ya buat jadi target saya saat ini?

Nama saya Sidik Rizal, sayangnya masih ada aja orang panggil saya, Pak Haji.
Mereka gak tahu saya belum pernah naik haji, dan juga belum pernah jadi tukang bubur.
Saya ini hanya tukang madu, yang biasanya suka pake celana cingkrang.

Karena itu, ada aja teman yang suka meledek saya,
karena kemana-mana saya selalu pakai celana cingkrang,
dan mereka selalu bertanya, kenapa pakai celana cingkrang?
Kan ketinggalan zaman, kampungan, norak, katrok, katrok cafe.

Mereka sering meledek saya,
kayak tukang sate Madura,
mirip pesilat gagal olimpiade,
atau seperti teroris gagal modis.

Hadeuh, ngeselin banget. Berikut ini pertanyaan yang sering ditanyakan ke saya;
1.
Kenapa Mas Sidik pake celana cingkrang, di atas matakaki?
Karena kalo saya pake celana di atas matahari, panas terbakar, Begok!

2.
Serius Mas Sidik, kenapa pake celana cingkrang di atas matakaki?
Karena ini musim hujan, rumah sering banjir sampai semata kaki.
Jadi ini adalah celana anti-banjir, banjir semata kaki.

3.
Lah? Kalo banjirnya sedada?
Ya saya pake celana renang. Tapi yang modelnya cingkrang sematakaki.

4.
Kalo pake celana cingkrang apa gak kuatir disangka teroris?
Kenapa kuatir? Kan saya cuma pake celana cingkrang?
Gak pake remote kontrol...!
Gak percaya, periksa aja sendiri... (actout, melihat ke bawah pusar)
Oh itu, yang itu bukan remote kontrol.

5.
Mas Sidik kok pake celana cingkrang, apa gak takut disangka wahabi?
Wah, setiap hari saya dipanggil wahabi, saya malah senang.
Loh kok gitu?
Setiap kali saya pulang ke rumah, sehabis salam, anak dan istri teriak senang,
"Wahabi pulang... Wah Abi pulang... Asyiikkk!"

6.
Ayolah Mas Sidik, saya serius tanya, kenapa pake celana cingkrang?
Karena kalau pake celana pensil, percuma! Saya gak bawa buku buat ditulis?

7.
Oke deh, Mas Sidik suka becanda. Suka pake celana cingkrang, kenapa gak pake celana cutbray?
Karena saya takut latah, salah ngomong kalo dipanggil orang, pas pake celana cutbray.
"Yo, mas Sidik, mau pergi kemana, Bray?"
"Oh, saya mau ke masjid, Cut...!
(actout, kaget, menutup mulut) Eh, kancut...!"
Maaf saya khilaf, astaghfirullah.
Itulah sebabnya saya pake gak mau pake cutbray. Mendingan cingkrang.

8.
Mas Sidik selalu pake celana cingkrang,
biar lebih modis, kenapa gak pake celana jin?
Karena saya manusia, bukan jin.

9.
Mas Sidik selalu pake celana cingkrang,
kenapa gak pake celana tentara, biar lebih pas?
Maksudnya apa, pas? Pas jadi teroris?

10.
Bukan, maksudnya, Mas Sidik itu kelihatan muslim militan,
jadi pantasnya,  kenapa gak pake celana tentara?
Karena disini Indonesia bukan Palestina.

11.
Emang Mas Sidik gak pernah pake celana kasual?
Saya juga pake celana kasual, celana jin atau celana tentara,
Kalau saya lagi ada tugas. Panggilan jihad....!

12.
Memangnya arti celana cingkrang buat Mas Sidik itu apa sih?
Celana cingkrang itu memberi kesan kesederhanaan (humble). Gak sombong.
So, celana kasual dan gak cingkrang itu artinya sombong?
Celana menutupi matakaki, menyentuh tanah itu isbal, yang kadang artinya sombong. 
Sombong karena suka meledek dan menghina orang bercelana cingkrang.
Haha, lucu. Serius. Apa buktinya celana menyentuh tanah atau menutupi matakaki itu sombong?
Mau bukti? Coba kamu bayangin cowo jalan-jalan pake celana panjang,
dia plorotin celananya menyentuh tanah dan menutupi matakaki,
Terus dia jalan melenggang. Sombong kan?
Pamer asset negara kemana-mana?

11.
Celana panjang itu tidak boleh isbal atau menutupi matakaki, itu adalah syariat ajaran Islam.
Bagi saya pribadi, mata itu untuk melihat, sama seperti halnya matakaki.
Matakaki itu mungkin untuk melihat jalan kemana kaki akan melangkah.
Ke tempat maksiyat, dugem atau ke tempat ibadah, masjid.
ciyeeh, ceramah.... padahal ini baru pendapat saya aja...
Jadi kelak dia akan jadi saksi, di akhirat, berbicara menuju kemana kaki berjalan.

12.
Teman saya yang jahiliyah, malah ngeledek;
"Jadi enak dong celana isbal, menutupi matakaki.
Nanti di akhirat gak ada saksi matakaki, kemana kaki kita pergi. iya kan?"
Justru dosanya lebih besar, karena menyembunyikan saksi mata.

Coba aja kamu bayangin...
(di sini "what if" kisah buat mereka yang isbal di akhirat....)

13.
Apa betul celana cingkrang itu bersifat egaliter, merakyat, sama selevel, gak ada bedanya?
Orang yang pake celana cingkrang, susah dibedakan,
Mana yang kaya atau miskin. Sama aja.
Mana yang tua atau muda. Sama aja.
Mana yang ganteng atau yang biasa. Sama aja.
Kalian tahu? Tengku Wisnu, sekarang ini selalu pakai celana cingkrang. So?
Bisa bedain, mana yang Tengku Wisnu atau saya, Sidik Rizal. Sama aja, susah dibedakan.

Rujukan tentang celana cingkrang, muslim itu nggak isbal. Sumber : Buku-Kajian.com

[A]. DEFINISI ISBAL
Isbal secara bahasa adalah masdar dari “asbala”, “yusbilu-isbaalan”, yang bermakna “irkhaa-an”, yang artinya; menurunkan, melabuhkan atau memanjangkan. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul ‘Aroby rahimahullah dan selainnya adalah ; memanjangkan, melabuhkan dan menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak. [Lihat Lisanul ‘Arob, Ibnul Munzhir 11/321, Nihayah Fi Gharibil Hadits, Ibnul Atsir 2/339]

[B]. BATAS PAKAIAN MUSLIM
Salah satu kewajiban seorang muslim adalah meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala perkara, termasuk dalam masalah pakaian. Rasulullah telah memberikan batas-batas syar’i terhadap pakaian seorang muslim, perhatikan hadits-hadits berikut:.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wassalam bersabda :
“Artinya : Keadaan sarung seorang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki. Dan apa yang turun di bawah mata kaki maka bagiannya di neraka. Barangsiapa yang menarik pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya.” [Hadits Riwayat. Abu Dawud 4093, Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah 4331]

Berkata Syaroful Haq Azhim Abadi rahimahullah :
“Hadits ini menunjukkan bahwa yang sunnah hendaklah sarung seorang muslim hingga setengah betis, dan dibolehkan turun dari itu hingga di atas mata kaki. Apa saja yang dibawah mata kaki maka hal itu terlarang dan haram.[ Aunul Ma’bud 11/103]

Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Artinya : Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wassalam memegang otot betisku lalu bersabda, “Ini merupakan batas bawah kain sarung. Jika engkau enggan maka boleh lebih bawah lagi. Jika engkau masih enggan juga, maka tidak ada hak bagi sarung pada mata kaki” [Hadits Riwayat. Tirmidzi 1783, Ibnu Majah 3572, Ahmad 5/382, Ibnu Hibban 1447. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 1765]

Hadits-hadits di atas mengisyaratkan bahwa panjang pakaian seorang muslim tidaklah melebihi kedua mata kaki dan yang paling utama hingga setengah betis, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang banyak.

Dari Abi Juhaifah Radhiyallahu ‘anhu berkata:
Aku melihat Nabi keluar dengan memakai Hullah Hamro’ seakan-akan saya melihat kedua betisnya yang sangat putih” [Tirmidzi dalam Sunannya 197, dalam Syama’il Muhammadiyyah 52, dan Ahmad 4/308]

‘Ubaid bin Khalid Radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Tatkala aku sedang berjalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang di belakangku sambil berkata, “Tinggikan sarungmu! Sesungguhnya hal itu lebih mendekatkan kepada ketakwaan.” Ternyata dia adalah Rasulullah. Aku pun bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, ini Burdah Malhaa (pakaian yang mahal). Rasulullah menjawab, “Tidakkah pada diriku terdapat teladan?” Maka aku melihat sarungnya hingga setengah betis”.[Hadits Riwayat Tirmidzi dalam Syama’il 97, Ahmad 5/364. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah, hal. 69]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memanjangkan celananya hingga melebihi mata kaki. Beliau menjawab:
’Panjangnya qomis, celana dan seluruh pakaian hendaklah tidak melebihi kedua mata kaki, sebagaimana telah tetap dari hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wassalam” [Majmu’ Fatawa 22/14]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
“Walhasil, ada dua keadaan bagi laki-laki; dianjurkan yaitu menurunkan sarung hingga setengah betis, boleh yaitu hingga di atas kedua mata kaki. Demikian pula bagi wanita ada dua keadaan; dianjurkan yaitu menurunkan di bawah mata kaki hingga sejengkal, dan dibolehkan hingga sehasta” [Fathul Bari 10/320]

Maka wajib bagi seorang muslim untuk menyerah dan tunduk dan mendengar dan taat kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah sebelum kematian datang menunjunginya, bila sampai demikian ia akan menemukan ancaman yang dulu telah disampaikan kepadanya. Ketika itu dia menyesal dan tidak ada manfaat penyesalan di waktu itu.

Wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari maksiat isbal (memanjangkan celana) dan maksiat lainnya. Hendaklah ia memendekkan pakaiannya di atas kedua mata kaki dan menyesali apa yang telah dia lakukan selama hidupnya.

Dan hendaklah ia bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi maksiat-maksiat di sisa umurnya yang singkat ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat bagi orang yang mau bertaubat. Seorang yang bertaubat dari suatu dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.

Orang yang membolehkan isbal melontarkan syubhat yang cukup banyak, di antara  dibolehkan. Oleh karena itu penulis perlu menjawab dalil-dalil yang biasa mereka gunakan untuk membolehkan isbal jika tidak bermaksud sombong.

Pertama: Hadits Ibnu Umar
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat!” Abu Bakar bertanya, “Ya Rasulullah, sarungku sering melorot kecuali bila aku menjaganya!” Rasulullah menjawab, “Engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong.”[Hadits Riwayat Bukhari 5784]

Mereka berdalil dengan sabda Rasulullah, “Engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong.”, bahwasanya isbal tidak sombong dibolehkan?!

Jawaban.
Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah:
“Dan termasuk perkara yang aneh, ada sebagian orang yang mempunyai pengetahuan tentang Islam, mereka berdalil bolehnya memanjangkan pakaian atas dasar perkatan Abu Bakar ini. Maka aku katakan bahwa hadits di atas sangat gamblang bahwa Abu Bakar sebelumnya tidak memanjangkan pakaiannya, sarungnya selalu melorot tanpa kehendak dirinya dengan tetap berusaha untuk selalu menjaganya. Maka apakah boleh berdalil dengan perkataan ini sementara perbedaannya sangat jelas bagaikan matahari di siang bolong dengan apa yang terjadi pada diri Abu Bakar dan orang yang selalu memanjangkan pakaiannya? Kita memohon kepada Allah keselamatan dari hawa nafsu. (As-Shohihah 6/401).

Kemudian Syaikh berkata di tempat yang lain : “Dalam hadits riwayat Muslim, Ibnu Umar pernah lewat di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan sarungnya melorot, Rasulullah menegur Ibnu Umar dan berkata, “Wahai Abdulloh, naikkan sarungmu!”.

Apabila Ibnu Umar saja yang termasuk sahabat yang mulia dan utama, Nabi tidak tinggal diam terhadap sarungnya yang melorot bahkan memerintahkannya untuk mengangkat sarung tersebut, bukankah ini menunjukkan bahwa isbal itu tidak berkaitan dengan sombong atau tidak sombong?! [Mukhtashar Syama’il Muhammadiyyah hal. 11]

Risalah ini diambil dari ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasulullah serta ucapan para peneliti dari kalangan Ulama. Saya mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia memberi manfaat risalah ini kepada penulisnya, atau pencetaknya, atau pembacanya, atau pendengarnya. Dan saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menjadikan amalan ini ikhlas untuk mengharap wajahNya yang Mulia dan menjadi sebab untuk mencari kebahagian sorga yang nikmat.

Dan saya berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi hidayah kepada Muslim yang masih melakukan Isbal pada pakaian mereka untuk melaksanakan sunnah Nabi mereka, Muhammad Ibn Abdullah, yaitu dengan memendekkannya. Memang ada sebagian orang yang bila ditegur perbuatan Isbal yang dilakukannya, dia berkata: Saya tidak melakukan hal ini karena sombong.

Maka kita katakan kepada orang ini : Isbal ada dua jenis, yaitu jenis hukumnnya; adalah bila seseorang melakukannya karena sombong maka dia tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendapatkan siksa yang sangat pedih. berbeda dengan orang yang melakukan Isbal tidak karena sombong. orang ini akan mendapatkan adzab, tetapi ia masih di ajak bicara, dilihat dan dibersihkan dosanya. Demikian kita katakan kepadanya. (diambil dari As’ilah Muhimmah Syaikh Muhammad Ibn Soleh Utsaimin)

Dan saya berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai orang orang yang membimbing lagi mendapatkan hidayah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat kepadaku dan anda sekalian melalui hidayah kitab-Nya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan yang benar kejadian mengikutinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat keras hukuman-Nya (Al Hasyr : 7)

Semoga salawat dan salam tercurah pada Nabi kita, Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya dan segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb Semesta alam.

Oleh Akhuna : Abu Annisa'

Demi Ariel, Apakah Sophia Latjuba Jadi Muallaf?

Senin, 28 April 2014

Solopos.com, SOLO – Kisah cinta Ariel Noah dengan Sophia Latjuba telah beredar luas. Kedekatan yang terjalin antara Sophia Latjuba yang kini punya nama Sophia Muller dengan pentolan band Noah, Nazriel Irham atau yang akrab disapa Ariel semakin menunjukkan kejelasan. Bahkan menurut beberapa kabar yang beredar, Sophia begitu sapaan akrabnya, telah berpindah keyakinan menjadi seorang mualaf sebagai bukti keseriusannya bersama Ariel.

Saat ditanya mengenai kabar tersebut, Sophia Muller mengatakan keputusannya menjadi seorang mualaf bukanlah didasari karena pengaruh seseorang. Baginya, soal agama merupakan hubungan privasinya dengan Tuhan.

“Ini privat banget soal agama. Saya mualaf bukan karena siapa-siapa, ini adalah hubungan saya dengan Tuhan. Bukan karena saya mau ngapa-ngapain,” kata Sophie sebagaimana dikutip Liputan6.com, Selasa (29/4/2014).


Sophia Muller mengaku merasa nyaman setelah dirinya menjadi seorang mualaf. Hingga kini Sophia mengaku masih terus mempelajari dan mendalami ajaran Islam yang kini telah dianut olehnya.

Sebelumnya, Sophia Muller diketahui menghabiskan waktu bersama Ariel di Bali. Beberapa foto yang beredar luas di media tentu menimbulkan berbagai pertanyaan besar. Beberapa di antaranya menyinggung soal kemantapan hati Sophia untuk hidup bersama dengan Ariel dalam ikatan pernikahan. Tapi, saat disinggung mengenai hal itu, Sophia engan membicarakan lebih lanjut.

“Sudahlah gak usah di bahas soal foto yang sudah beredar. Kebetulan ada perlu saya,” jelas Sophia Muller di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (28/4/2014).

Sumber : Selasa, 29 April 2014 17:15 WIB | Septina Arifiani/JIBI/Solopos | Editor Septina Arifiani

Perang Informasi dan Pencitraan Politis

Rabu, 30 Januari 2013

FITNAH DAJJAL MERAJALELA DI NEGERI INI
Berita Presiden PKS terlibat Suap + Keluarga Presiden Langgar Pajak

Jakarta - kompasiana.com
Belum semenit lewat pemberitaan tentang masalah pelanggaran pajak yang dilakukan oleh keluarga istana kepresidenan, maka isyu presiden PKS menjadi tersangka suap import daging sapi seketika mengemuka. Tapi apakah secepat itu publik mengalihkan perhatian (atau dialihkan perhatinnya) kepada masalah isyu penyuapan yang tidak dilakukan oleh pihak partai politik lawan?

Mendefiniskan kata partai politik lawan, itu sama dengan menyebut bahwa partai pemenang yakni Partai Demokrat memang harus selalu siap menyediakan isyu baru sebagai counter-back jika masalah internal di dalam tubuh partainya termasuk tokoh pembina partainya yang juga menjabat sebagai presiden RI bahkan keluarganya yang diutak-atik karena kasus pelanggaran pajak.

Jika sudah begini masalah yang sempat menyeruak ke publik, maka sudah dapat dipastikan siapa saja yang bakal melihat dengan jelas semua skenario cerita pewayangan di negeri ini. Tinggal mengetahui secara pasti siapa sajakah dalang dari cerita ini yang tiap hari seperti tak pernah kehabisan ide untuk memenuhi media publik kita?

Setan lah jawabannya. Pihak yang selalu berusaha untuk meruntuhkan tatanan sendi kehidupan bangsa kita, bukan cuma di Indonesia, tapi seluruh dunia, peranan setan baik itu berwujud oknum maupun sistem bahkan organisasi terseleubung sekalipun seperti intelijen setan, tentara setan dan pemikir-pemikir setan yang membuat semua yang seharusnya terlihat rapi dan indah menjadi rusak berantakan. Kita harus tahu bahwa memang sesungguhnya musuh utama kita adalah mereka, para setan yang berwujud manusia, berwujud sistem dan berwujud organisasi terselubung baik dalam nama dan bentuk apapun.

Mereka tak akan pernah berhenti memprovokasi dan menjalankan ide gila serta rencana paling canggih, demi menghancurkan segala sendi kehidupan agar kita sebagai manusia, warga negara atau bangsa Indonesia (termasuk warga dunia dan umat manusia) selalu gontok-gontokan, beradu argumentasi, saling mencaci, saling membunuh dan saling memfitnah tiada henti hingga akhir waktu.

Kok ya mau kita selalu berburuk sangka? Sebagai media selalu berusaha menjual berita tentang segala prasangka atas kekurangan, kelemahan dan keburukan siapa saja yang bisa dijadikan obyek berita. Bagaimana tidak miris saya membaca twitter dari beberapa media yang terkesan memang asal dapat mencomot dengan sistem copy paste, sepanjang media mereka tidak ketinggalan tanpa memperhatikan aspek perlindungan nama baik dari yang menjadi obyek. Benar sekali apa yang pernah dikatakan Rasulullah s.a.w. seribu empat ratus tahun yang lalu, dimana kelak akan muncul banyak fitnah menjelang akhir zaman yang diteriakkan oleh para tentara setan baik itu mereka yang tidak suka dengan Islam maupun oleh kita sendiri yang mengaku dirinya muslim karena tak sadar telah menjadi kaki tangan setan dalam menyebarkan fitnah.


Kalau sudah begini apalagi yang mau kita perbuat? Hanya bersama dan periksa setiap berita yang kita terima dari manapun. Berhati-hatilah dengan berita yang menghancurkan diri kita dan memfitnah saudara kita, yang sebenarnya bertujuan untuk mengadu domba dan memporak-porandakan tali persaudaraan di antara kita.

Sungguh kebodohan kita menerima berita tanpa menyaring dan memeriksa kebenaran sumbernya, sebagai bukti bahwa kita masih mendahulukan hawa nafsu daripada keimanan kepada Allah Subhana wa Ta'ala yang menjamin bahwa kebenaran cahaya Islam itu tidak akan bisa dipadamkan oleh tipu daya berita dari para komunitas setan yang tak pernah suka bila kejayaan Islam semakin dekat.

Allah ta’ala berfirman,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Berhati-hatilah kalian dari suatu ‘fitnah’ yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah maha keras hukuman-Nya.” (QS. al-Anfaal: 25)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata,

يقول تعالى ذكره للمؤمنين به وبرسوله: “اتقوا”، أيها المؤمنون “فتنة”، يقول: اختبارًا من الله يختبركم، وبلاء يبتليكم “لا تصيبن”، هذه الفتنة التي حذرتكموها “الذين ظلموا”، وهم الذين فعلوا ما ليس لهم فعله، إما إجْرام أصابوها، وذنوب بينهم وبين الله ركبوها. يحذرهم جل ثناؤه أن يركبوا له معصية، أو يأتوا مأثمًا يستحقون بذلك منه عقوبة

“Allah ta’ala dzikruhu menyatakan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya: Hati-hatilah kalian, wahai orang-orang yang beriman, akan suatu fitnah. Maksudnya adalah suatu cobaan dari Allah untuk menguji kalian dan datangnya musibah yang menjadi cobaan untuk kalian. Yang itu tidaklah menimpa –maksudnya adalah fitnah yang diperingatkan kepada kalian- khusus kepada orang-orang yang zalim. Yang dimaksud dengan orang zalim adalah orang-orang yang melakukan sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan, baik dengan bentuk melakukan kejahatan, atau dengan berbuat kemaksiatan antara diri mereka dengan Allah. Allah jalla tsana’uhu memperingatkan mereka agar tidak tenggelam dalam kedurhakaan kepada-Nya atau melakukan dosa yang membuat mereka berhak untuk mendapatkan hukuman dari-Nya.” (Jami’ al-Bayan [13/473] asy-Syamilah)

al-Baghawi rahimahullah berkata,

وقال ابن زيد: أراد بالفتنة افتراق الكلمة ومخالفة بعضهم بعضا

“Ibnu Zaid berkata: Yang dimaksud dengan fitnah adalah perpecah-belahan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka.” (Ma’alim at-Tanzil [3/346] asy-Syamilah)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

قال ابن أبي طلحة عن ابن عباس : في هذه الآية ، أمر الله المؤمنين أن لا يُقِرُّوا المنكر بين أظهرهم ، فيعمهم الله بالعذاب . وقال مجاهد : هذه الآية لكم أيضاً

“Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai makna ayat ini, beliau berkata: ‘Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman –semua- agar mereka tidak membiarkan kemungkaran merajalela di tengah-tengah mereka karena hal itu akan menyebabkan Allah meratakan azab kepada mereka’. Mujahid mengatakan: ‘Ayat ini juga berlaku bagi kalian.’.” (Zaad al-Masiir [3/98] asy-Syamilah)

Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

“Beribadah di saat harj -berkecamuknya fitnah- laksana berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

an-Nawawi rahimahullah berkata,

الْمُرَاد بِالْهَرْجِ هُنَا الْفِتْنَة وَاخْتِلَاط أُمُور النَّاس . وَسَبَب كَثْرَة فَضْل الْعِبَادَة فِيهِ أَنَّ النَّاس يَغْفُلُونَ عَنْهَا ، وَيَشْتَغِلُونَ عَنْهَا ، وَلَا يَتَفَرَّغ لَهَا إِلَّا أَفْرَاد .

“Yang dimaksud dengan harj di sini adalah fitnah dan kesimpangsiuran urusan manusia. Sebab banyaknya keutamaan beribadah di saat itu adalah karena manusia lalai darinya dan disibukkan dengan perkara lain sehingga meninggalkannya serta tidak ada yang bersungguh-sungguh melakukannya kecuali beberapa gelintir orang saja.” (al-Minhaj [9/339] asy-Syamilah)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

ووجه تمثيله بالهجرة أن الزمن الأول كان الناس يفرون فيه من دار الكفر وأهله إلى دار الإيمان وأهله فإذا وقعت الفتن تعين على المرء أن يفر بدينه من الفتنة إلى العبادة ويهجر أولئك القوم وتلك الحالة وهو أحد أقسام الهجرة

“Sisi kemiripan hal itu dengan hijrah adalah di masa yang pertama -masa Nabi- maka umat manusia dahulu meninggalkan negeri kufur dan penduduknya menuju negeri iman dan penduduknya. Maka apabila terjadi fitnah wajib di saat itu bagi setiap orang untuk pergi membawa agamanya dari gejolak fitnah menuju ketaatan beribadah serta menjauhi kelompok orang-orang yang larut dalam fitnah itu serta keadaan yang buruk itu. Sementara hal itu adalah termasuk salah satu kategori hijrah.” (al-Kaba’ir, hal 202. Lihat juga perkataan Ibnul Arabi yang dinukil dalam Faidh al-Qadir [4/490] asy-Syamilah)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa hakekat ibadah itu adalah, “Menjalankan ketaatan kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.” (lihat Syarh al-Jami’ li ‘Ibadatillahi Wahdah, hal. 16). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga telah menjelaskan dengan ungkapannya yang sangat populer bahwa ibadah itu adalah ‘segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir/tampak maupun yang batin/tersembunyi.’ (lihat kitab beliau al-‘Ubudiyah). Dari sini kita mengetahui bahwa standar ibadah adalah kecintaan Allah. Semakin dicintai suatu perkara/amalan di sisi Allah maka semakin tinggi kedudukan amalan tersebut di dalam agama yang mulia ini.

Dari sini kita bisa memetik pelajaran –wallahu a’lam- bahwa di tengah berkecamuknya fitnah di antara kaum muslimin -dalam bentuk apa saja- maka yang wajib bagi mereka lakukan pertama kali adalah kembali kepada Allah dan merenungkan -berdasarkan dalil-dalil syari’at- mengenai tindakan apakah yang paling Allah cintai bagi mereka ketika fitnah itu telah melanda. Bukan dengan kembali kepada hawa nafsu dan perasaan mereka. Ingatlah, bahwa segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itulah hawa nafsu, meskipun ia dibungkus dengan ayat-ayat dan hadits-hadits!

Di tengah tersebarnya berita-berita tidak jelas -apalagi terkait dengan pribadi para ulama ataupun pemerintah-, maka wajib bagi para pemuda untuk menahan lisan dan jari-jari mereka agar tidak berbicara ataupun menyebarkan tulisan mengatasnamakan agama yang mulia ini kecuali dengan dalil dan berlandaskan berita yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala. Ingatlah, nasehat Muhammad bin Sirin rahimahullah yang dinukil oleh Imam Muslim rahimahullah dalam mukadimah shahihnya, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya…

Dikutip dari tulisan Abu Mushlih Ari Wahyudi dari artikel 'Di Saat Fitnah Merajalela — Muslim.Or.Id'


Allah ta’ala berfirman,
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Berhati-hatilah kalian dari suatu ‘fitnah’ yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah maha keras hukuman-Nya.” (QS. al-Anfaal: 25)
Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata,
يقول تعالى ذكره للمؤمنين به وبرسوله: “اتقوا”، أيها المؤمنون “فتنة”، يقول: اختبارًا من الله يختبركم، وبلاء يبتليكم “لا تصيبن”، هذه الفتنة التي حذرتكموها “الذين ظلموا”، وهم الذين فعلوا ما ليس لهم فعله، إما إجْرام أصابوها، وذنوب بينهم وبين الله ركبوها. يحذرهم جل ثناؤه أن يركبوا له معصية، أو يأتوا مأثمًا يستحقون بذلك منه عقوبة
“Allah ta’ala dzikruhu menyatakan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya: Hati-hatilah kalian, wahai orang-orang yang beriman, akan suatu fitnah. Maksudnya adalah suatu cobaan dari Allah untuk menguji kalian dan datangnya musibah yang menjadi cobaan untuk kalian. Yang itu tidaklah menimpa –maksudnya adalah fitnah yang diperingatkan kepada kalian- khusus kepada orang-orang yang zalim. Yang dimaksud dengan orang zalim adalah orang-orang yang melakukan sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan, baik dengan bentuk melakukan kejahatan, atau dengan berbuat kemaksiatan antara diri mereka dengan Allah. Allah jalla tsana’uhu memperingatkan mereka agar tidak tenggelam dalam kedurhakaan kepada-Nya atau melakukan dosa yang membuat mereka berhak untuk mendapatkan hukuman dari-Nya.” (Jami’ al-Bayan [13/473] asy-Syamilah)
al-Baghawi rahimahullah berkata,
وقال ابن زيد: أراد بالفتنة افتراق الكلمة ومخالفة بعضهم بعضا
“Ibnu Zaid berkata: Yang dimaksud dengan fitnah adalah perpecah-belahan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka.” (Ma’alim at-Tanzil [3/346] asy-Syamilah)
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,
قال ابن أبي طلحة عن ابن عباس : في هذه الآية ، أمر الله المؤمنين أن لا يُقِرُّوا المنكر بين أظهرهم ، فيعمهم الله بالعذاب . وقال مجاهد : هذه الآية لكم أيضاً
“Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai makna ayat ini, beliau berkata: ‘Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman –semua- agar mereka tidak membiarkan kemungkaran merajalela di tengah-tengah mereka karena hal itu akan menyebabkan Allah meratakan azab kepada mereka’. Mujahid mengatakan: ‘Ayat ini juga berlaku bagi kalian.’.” (Zaad al-Masiir [3/98] asy-Syamilah)
Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ
“Beribadah di saat harj -berkecamuknya fitnah- laksana berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)
an-Nawawi rahimahullah berkata,
الْمُرَاد بِالْهَرْجِ هُنَا الْفِتْنَة وَاخْتِلَاط أُمُور النَّاس . وَسَبَب كَثْرَة فَضْل الْعِبَادَة فِيهِ أَنَّ النَّاس يَغْفُلُونَ عَنْهَا ، وَيَشْتَغِلُونَ عَنْهَا ، وَلَا يَتَفَرَّغ لَهَا إِلَّا أَفْرَاد .
“Yang dimaksud dengan harj di sini adalah fitnah dan kesimpangsiuran urusan manusia. Sebab banyaknya keutamaan beribadah di saat itu adalah karena manusia lalai darinya dan disibukkan dengan perkara lain sehingga meninggalkannya serta tidak ada yang bersungguh-sungguh melakukannya kecuali beberapa gelintir orang saja.” (al-Minhaj [9/339] asy-Syamilah)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,
ووجه تمثيله بالهجرة أن الزمن الأول كان الناس يفرون فيه من دار الكفر وأهله إلى دار الإيمان وأهله فإذا وقعت الفتن تعين على المرء أن يفر بدينه من الفتنة إلى العبادة ويهجر أولئك القوم وتلك الحالة وهو أحد أقسام الهجرة
“Sisi kemiripan hal itu dengan hijrah adalah di masa yang pertama -masa Nabi- maka umat manusia dahulu meninggalkan negeri kufur dan penduduknya menuju negeri iman dan penduduknya. Maka apabila terjadi fitnah wajib di saat itu bagi setiap orang untuk pergi membawa agamanya dari gejolak fitnah menuju ketaatan beribadah serta menjauhi kelompok orang-orang yang larut dalam fitnah itu serta keadaan yang buruk itu. Sementara hal itu adalah termasuk salah satu kategori hijrah.” (al-Kaba’ir, hal 202. Lihat juga perkataan Ibnul Arabi yang dinukil dalam Faidh al-Qadir [4/490] asy-Syamilah)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa hakekat ibadah itu adalah, “Menjalankan ketaatan kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.” (lihat Syarh al-Jami’ li ‘Ibadatillahi Wahdah, hal. 16). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga telah menjelaskan dengan ungkapannya yang sangat populer bahwa ibadah itu adalah ‘segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir/tampak maupun yang batin/tersembunyi.’ (lihat kitab beliau al-‘Ubudiyah). Dari sini kita mengetahui bahwa standar ibadah adalah kecintaan Allah. Semakin dicintai suatu perkara/amalan di sisi Allah maka semakin tinggi kedudukan amalan tersebut di dalam agama yang mulia ini.
Dari sini kita bisa memetik pelajaran –wallahu a’lam- bahwa di tengah berkecamuknya fitnah di antara kaum muslimin -dalam bentuk apa saja- maka yang wajib bagi mereka lakukan pertama kali adalah kembali kepada Allah dan merenungkan -berdasarkan dalil-dalil syari’at- mengenai tindakan apakah yang paling Allah cintai bagi mereka ketika fitnah itu telah melanda. Bukan dengan kembali kepada hawa nafsu dan perasaan mereka. Ingatlah, bahwa segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itulah hawa nafsu, meskipun ia dibungkus dengan ayat-ayat dan hadits-hadits!
Di tengah tersebarnya berita-berita tidak jelas -apalagi terkait dengan pribadi para ulama ataupun pemerintah-, maka wajib bagi para pemuda untuk menahan lisan dan jari-jari mereka agar tidak berbicara ataupun menyebarkan tulisan mengatasnamakan agama yang mulia ini kecuali dengan dalil dan berlandaskan berita yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala. Ingatlah, nasehat Muhammad bin Sirin rahimahullah yang dinukil oleh Imam Muslim rahimahullah dalam mukadimah shahihnya, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya…
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id
Allah ta’ala berfirman,
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Berhati-hatilah kalian dari suatu ‘fitnah’ yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah maha keras hukuman-Nya.” (QS. al-Anfaal: 25)
Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata,
يقول تعالى ذكره للمؤمنين به وبرسوله: “اتقوا”، أيها المؤمنون “فتنة”، يقول: اختبارًا من الله يختبركم، وبلاء يبتليكم “لا تصيبن”، هذه الفتنة التي حذرتكموها “الذين ظلموا”، وهم الذين فعلوا ما ليس لهم فعله، إما إجْرام أصابوها، وذنوب بينهم وبين الله ركبوها. يحذرهم جل ثناؤه أن يركبوا له معصية، أو يأتوا مأثمًا يستحقون بذلك منه عقوبة
“Allah ta’ala dzikruhu menyatakan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya: Hati-hatilah kalian, wahai orang-orang yang beriman, akan suatu fitnah. Maksudnya adalah suatu cobaan dari Allah untuk menguji kalian dan datangnya musibah yang menjadi cobaan untuk kalian. Yang itu tidaklah menimpa –maksudnya adalah fitnah yang diperingatkan kepada kalian- khusus kepada orang-orang yang zalim. Yang dimaksud dengan orang zalim adalah orang-orang yang melakukan sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan, baik dengan bentuk melakukan kejahatan, atau dengan berbuat kemaksiatan antara diri mereka dengan Allah. Allah jalla tsana’uhu memperingatkan mereka agar tidak tenggelam dalam kedurhakaan kepada-Nya atau melakukan dosa yang membuat mereka berhak untuk mendapatkan hukuman dari-Nya.” (Jami’ al-Bayan [13/473] asy-Syamilah)
al-Baghawi rahimahullah berkata,
وقال ابن زيد: أراد بالفتنة افتراق الكلمة ومخالفة بعضهم بعضا
“Ibnu Zaid berkata: Yang dimaksud dengan fitnah adalah perpecah-belahan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka.” (Ma’alim at-Tanzil [3/346] asy-Syamilah)
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,
قال ابن أبي طلحة عن ابن عباس : في هذه الآية ، أمر الله المؤمنين أن لا يُقِرُّوا المنكر بين أظهرهم ، فيعمهم الله بالعذاب . وقال مجاهد : هذه الآية لكم أيضاً
“Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai makna ayat ini, beliau berkata: ‘Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman –semua- agar mereka tidak membiarkan kemungkaran merajalela di tengah-tengah mereka karena hal itu akan menyebabkan Allah meratakan azab kepada mereka’. Mujahid mengatakan: ‘Ayat ini juga berlaku bagi kalian.’.” (Zaad al-Masiir [3/98] asy-Syamilah)
Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ
“Beribadah di saat harj -berkecamuknya fitnah- laksana berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)
an-Nawawi rahimahullah berkata,
الْمُرَاد بِالْهَرْجِ هُنَا الْفِتْنَة وَاخْتِلَاط أُمُور النَّاس . وَسَبَب كَثْرَة فَضْل الْعِبَادَة فِيهِ أَنَّ النَّاس يَغْفُلُونَ عَنْهَا ، وَيَشْتَغِلُونَ عَنْهَا ، وَلَا يَتَفَرَّغ لَهَا إِلَّا أَفْرَاد .
“Yang dimaksud dengan harj di sini adalah fitnah dan kesimpangsiuran urusan manusia. Sebab banyaknya keutamaan beribadah di saat itu adalah karena manusia lalai darinya dan disibukkan dengan perkara lain sehingga meninggalkannya serta tidak ada yang bersungguh-sungguh melakukannya kecuali beberapa gelintir orang saja.” (al-Minhaj [9/339] asy-Syamilah)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,
ووجه تمثيله بالهجرة أن الزمن الأول كان الناس يفرون فيه من دار الكفر وأهله إلى دار الإيمان وأهله فإذا وقعت الفتن تعين على المرء أن يفر بدينه من الفتنة إلى العبادة ويهجر أولئك القوم وتلك الحالة وهو أحد أقسام الهجرة
“Sisi kemiripan hal itu dengan hijrah adalah di masa yang pertama -masa Nabi- maka umat manusia dahulu meninggalkan negeri kufur dan penduduknya menuju negeri iman dan penduduknya. Maka apabila terjadi fitnah wajib di saat itu bagi setiap orang untuk pergi membawa agamanya dari gejolak fitnah menuju ketaatan beribadah serta menjauhi kelompok orang-orang yang larut dalam fitnah itu serta keadaan yang buruk itu. Sementara hal itu adalah termasuk salah satu kategori hijrah.” (al-Kaba’ir, hal 202. Lihat juga perkataan Ibnul Arabi yang dinukil dalam Faidh al-Qadir [4/490] asy-Syamilah)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa hakekat ibadah itu adalah, “Menjalankan ketaatan kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.” (lihat Syarh al-Jami’ li ‘Ibadatillahi Wahdah, hal. 16). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga telah menjelaskan dengan ungkapannya yang sangat populer bahwa ibadah itu adalah ‘segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir/tampak maupun yang batin/tersembunyi.’ (lihat kitab beliau al-‘Ubudiyah). Dari sini kita mengetahui bahwa standar ibadah adalah kecintaan Allah. Semakin dicintai suatu perkara/amalan di sisi Allah maka semakin tinggi kedudukan amalan tersebut di dalam agama yang mulia ini.
Dari sini kita bisa memetik pelajaran –wallahu a’lam- bahwa di tengah berkecamuknya fitnah di antara kaum muslimin -dalam bentuk apa saja- maka yang wajib bagi mereka lakukan pertama kali adalah kembali kepada Allah dan merenungkan -berdasarkan dalil-dalil syari’at- mengenai tindakan apakah yang paling Allah cintai bagi mereka ketika fitnah itu telah melanda. Bukan dengan kembali kepada hawa nafsu dan perasaan mereka. Ingatlah, bahwa segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itulah hawa nafsu, meskipun ia dibungkus dengan ayat-ayat dan hadits-hadits!
Di tengah tersebarnya berita-berita tidak jelas -apalagi terkait dengan pribadi para ulama ataupun pemerintah-, maka wajib bagi para pemuda untuk menahan lisan dan jari-jari mereka agar tidak berbicara ataupun menyebarkan tulisan mengatasnamakan agama yang mulia ini kecuali dengan dalil dan berlandaskan berita yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala. Ingatlah, nasehat Muhammad bin Sirin rahimahullah yang dinukil oleh Imam Muslim rahimahullah dalam mukadimah shahihnya, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya…
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi


Sekarang apakah anda termasuk mereka yang memusuhi bangkitnya kejayaan Islam dalam setiap aspek kehidupan, termasuk di dalamnya dunia perpolitikan bangsa kita atau Anda memang berniat ingin menjadi mujahid-mujahid atau para pejuang penegak dienul Islam dalam setiap aspek kehidupan dengan segala konsekwensi yang akan ada dalam aplikasi kehidupan kita setiap hari, baik sebagai wartawan, pemilik media, atau pembaca serta pemirsa berita yang memang menjadi obyek komunikasi baik bernilai secara komersil maupun politis. Ingat perang yang paling berat di zaman modern ini adalah Ghozwul Fikri, atau perang ide melalui pencitraan media pemberitaan dengan segala cara. Tinggal pilih bagaimana akhirnya nanti terserah Anda! Mau hancur lebur? Silakan ikuti saja semua dan amini setiap pemberitaan yang tak jelas dan selalu membawa kebencian pada sesama serta berusaha memadamkan cahaya Islam, atau kita mau berjaya dan hidup adil sejahtera? Maka sikapi segala sesuati dari berita yang dibawa oleh siapapun dengan teliti dan bijaksana serta selalu periksa. Wallahu 'alam bi showab.

SidikRizal.com - komika, komedian dan penulis blogger di webrizal.com

Dibongkarnya Aliran Sesat JIL

Kamis, 24 Mei 2012

Jaringan Islam Liberal (JIL) dianggap Sesat dan Berbahaya oleh Ulama Salafus Shalih


FORMULIR KEMITRAAN

Klik di sini untuk pengisian formulir kemitraan usaha waralaba
Kotak Makanan Lunch Box dan Kardus Packing

Popular Posts

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2021. RUBY Digital Printing Pesan Jemput Antar 081385386583 - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger